Pages

Jumat, 04 Maret 2011

program maping biologi kelas 11 semester 2

PROGRAM MAPPING

Title            : Sistem dan Struktur Fungsi Organ Manusia
Description                       : Materi belajar Sistem dan struktur fungsi Organ Manusia ini membahas tentang anatomi dan fisiologi manusia yang disesuaikan dengan kebutuhan peserta didik. Secara singkat materi ini membahas tentang strukutur umum tubuh manusia, konsep dasar kerja dan integrasi berbagai system dalam tubuh manusia. Sejauh mungkin dalam penyampaiannya akan dibahas penerapan ilmu ini dalam kehidupan sehari – hari dan masyarakat.
Learning Objectives    :  Meningkatkan kemampuan peserta didik dalammenjelaskan struktur fungsi organ manusia dan hewan tertentu, kelainan dan/atau penyakit yang mungkin terjadi serta implikasinya pada salingtemas.
Course Method    : VC Blended Learning: 41,67 % VC, 54,16 % Web-based Learning, F2F 4,16%

Generic Form

No     Kompetensi Dasar      Pokok Bahasan     F2F     Video conference     Web-based course       
  1.
    Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem pencernaan makanan pada manusia dan hewan (misalnya ruminansia)     1.1. Makanan. Zat makanan terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, mineral dan vitamin.    -    -    ü      
        1.2. Sistem pencernaan makanan manusia sistem pencernaan mencakup sturktur dan proses pencernaan makanan. Alat pencernaan seperti mulut, kerongkongan, lambung ususdan kelenjarludah, hati, Kelenjar lambung, pankreas, kelenjar usus memiliki fungsi khusus.
    -    ü    -      
          1.3.    Pencernaan hewan ruminansia. Pencernan makanan hewan ruminansia memiliki kekhususan karena adanya perbedaan struktur.
    -    ü    -      
        1.4.    Penyakit/gangguan sistem pencernaan. Gangguan pencernaan antara lain sembelit, tukak lambung dll.    -    ü    -      
2.    Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem pernapasan pada manusia dan hewan.( misalnya burung)    2.1. Struktur dan fungsi alat-alat pernapasan. Alat pernapasan manusia berupa paru-paru (bronkus, bronkeulus, bonkeololus) yang membangun sistem yang khas.    -    -    ü      
        2.2.    Mekanisme pernapasan pada manusia. Pernapasan dilakukan secara inspirasi dan ekspirasi yang terjadi karena adanya perbedaan tekananudara pada rongga dada.    -    ü    -      
        2.3.    Pernapasan hewan. Pernapasan pada hewan bervariasi, misalnya dengan paru-paru, insang, kulit, dan trakea.
    -    -    ü      
        2.4.    Kelainan dan penyakit yang terjadi. Beberapa penyakit/kelainan antara lain faringitis, tonsilitis, diferti, emfisema dll.
    -    -    ü      
3.    Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem ekskresi pada manusia dan hewan (misalnya ikan dan serangga).    3.1.    Struktur dan fungsi alat-alat ekskresi manusia. Alat ekskresi pada manusia antara lain paru-paru, kulit, ginjal, hati, yang mengekskresikan hasil metabolisme.    -    ü    -      
        3.2.    Proses ekskresi pada manusia. Ekskresi sisa-sisa metabolisme melalui paru-paru, hati, ginjal dan kulit menunjukkan mekanisme yang berbeda.    -    ü    -      
        3.3.    Ekskresi pada hewan. Hewan mengekskresikan sisa metabolismenya menggunakan alat seperti kulit, ginjal, sel api, nefridia, dll.
    -    ü    -      
       
3.4.    Kelainan dan penyakit yang terjadi. Gangguan pada sistem ekskresi, antara lain albuminaria, nefritis, polyuria dll.
    -    ü    -      
4.    Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelalaian / penyakit yang dapat terjadi pada sistem regulasi manusia (saraf, endokrin, dan penginderaan).    4.1.    Struktur dan fungsi sistem regulasi (saraf, endokrin dan indera). Sistem saraf meliputi saraf pusat dan susunan saraf tepi. Hormon mengatur pertumbuhan, keseimbangan internal, reproduksi dan tingkah laku. Alat indrea sebagai reseptor rangsang dari luar dilakukan oleh Mata, telinga, lidah, hidung.    -    -    ü      
        4.2.    Proses regulasi (saraf, endokrin, indera). Proses regulsi bekerja sesuai dengan rangsangan dan koordinasi yang mantap.
    -    -    ü      
        4.3.    Kelainan/penyakit yang terjadi (saraf, endokrin Indera). Beberapa gangguan regulasi, antara lain hipertiroidime, kretinisme, mabuk, gangguan kesadaran, mata rabun, dsb    -    -    ü      
5.    Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan  proses yang meliputi pembentukan sel kelamin, ovulasi, menstruasi, dan pemberian ASI, serta kelainan penyakit yang dapat terjadi pada sistem reproduksi manusia.     5.1.    Struktur dan fungsi alat-alat reproduksi pada laki-laki dan wanita. Sistem reproduksi manusia ada yang terdapat dalam rongga tubuh dan tampak dari luar tubuh    -    ü    -      
        5.2.    Proses pembentukan sel kelamin proses pembentukan kelamin meliputi sperma dan sel telur.    -    ü    -      
        5.3.    Ovulasi proses pelepasan sel telur yang sudah matang dari ovarium ke tuba fallopi untuk dibuahi.
    ü    -    -      
        5.4.    Menstruasi. Wanita mengalami masa menstruasi setiap kurun 28 hari setiap bulan. Menstruasi merupakan salah satu kekhasan makhluk hidup golongan primata.
    -    ü    -      
        5.5.    Fertilisasi, gestasi dan persalinan.

5.6.    ASI. ASI memiliki bahan nutrisi yang amat penting bagi bayi, terutama setelah proses kelahiran.    -


-    ü



-    -


ü      
        5.7. Kelainan / penyakit yang terjadi. Beberapa penyakit/gangguan seperti keputihan, kanker rahim, mandul dsb.    -    ü    -      
6.    Menjelaskan mekanisme pertahanan tubuh terhadap benda asing berupa antigen dan bibit penyakit    6.1.    Antigen dan antibodi. Antigen, benda asing yang masuk dalam tubuh perlu dikenali dan dihancurkan antibodi, zat anti yang dihasilkan tubuh untuk melawan benda asing tertentu.
    -    -    ü      
        6.2. Mekanisme pertahanan tubuh. Kekebalan tubuh dapat terjadi autoimunitas, heteroimunitas dan isoimunitas     -    -    ü   


Video Conference Form

No.    Kompetensi Dasar    Pokok Bahasan    Skenario    Interaksi    Tugas    Waktu    Referensi      
1

 2.    Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem pencernaan makanan pada manusia dan hewan (misalnya ruminansia)
Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem pernapasan pada manusia dan hewan.( misalnya burung)    1.2.Sistem pencernaan makanan manusia sistem pencernaan mencakup sturktur dan proses pencernaan makanan. Alat pencernaan seperti mulut, kerongkongan, lambung ususdan kelenjarludah, hati, Kelenjar lambung, pankreas, kelenjar usus memiliki fungsi khusus.

1.3. Pencernaan hewan ruminansia. Pencernan makanan hewan ruminansia memiliki kekhususan karena adanya perbedaan struktur.


1.4.Penyakit/gangguan sistem pencernaan. Gangguan pencernaan antara lain sembelit, tukak lambung dll.

2.2.Mekanisme pernapasan pada manusia. Pernapasan dilakukan secara inspirasi dan ekspirasi yang terjadi karena adanya perbedaan tekananudara pada rongga dada.


    Pre-connection (persiapan)

Mulai sesi

Pembukaan komentar dan pengenalan guru

Masing – masing siswa memberikan argumennya dan siswa lain memberikan sanggahan.

Guru memberikan penjelasan lebih lanjut tentang system pencernaan manusia, hewan, dan penyakit pada system pencernaan , masukan dan saran bagi siswa


Pre-connection (persiapan)

Mulai sesi

Pembukaan komentar dan pengenalan guru

Masing – masing siswa memberikan argumennya dan siswa lain memberikan sanggahan.

Guru memberikan penjelasan tentang mekanisme pernapasan pada burung    Diskusi kelompok dengan lokal fasiliator

Diskusi kelompok dengan lokal fasiliator    Merefleksihasil diskusi dari pokok bahasan system pencernaan makanan manusia, hewan serta alat dan struktur pencernaan manusia dan penyakit/gangguan pada system pencernaan.


Merefleksikan hasil dr diskusi tentang mekanisme pernapasan    135 menit


45 menit    Buku pengangan siswa Penerbit Grafindo dan buku yang relevan lainnya.
Situs http://www.crayonpedia.
org/mw/Alat_Pencernaan_
Manusia,_Makanan,_
dan_Kesehatan_5.1


Buku pengangan siswa Penerbit Grafindo dan buku yang relevan lainnya.
 Situs

http://abba.vlsm.org
/v12/sponsor/
Sponsor-Pendamping
/Praweda/Biologi/
0077%20Bio
%202-8d.htm        
3    Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan proses serta kelainan/penyakit yang dapat terjadi pada sistem ekskresi pada manusia dan hewan (misalnya ikan dan serangga).    3.5.    Struktur dan fungsi alat-alat ekskresi manusia. Alat ekskresi pada manusia antara lain paru-paru, kulit, ginjal, hati, yang mengekskresikan hasil metabolisme.
3.6.    Proses ekskresi pada manusia. Ekskresi sisa-sisa metabolisme melalui paru-paru, hati, ginjal dan kulit menunjukkan mekanisme yang berbeda
3.7.    Ekskresi pada hewan. Hewan mengekskresikan sisa metabolismenya menggunakan alat seperti kulit, ginjal, sel api, nefridia, dll.
3.8.    Kelainan dan penyakit yang terjadi. Gangguan pada sistem ekskresi, antara lain albuminaria, nefritis, polyuria dll.
    Pre-connection (persiapan)

Mulai sesi

Pembukaan komentar dan pengenalan guru

Masing – masing siswa memberikan argumennya dan siswa lain memberikan sanggahan.

Guru memberikan penjelasan tentang gangguan/penyakit pada system organ manusia dan hewan.    Diskusi kelompok dengan lokal fasiliator

    Merefleksikan diri materi tentang kelainan/penyakit yg terjadi pada system ekskresi pada manusikaa dan hewan.    180 menit    Buku pengangan siswa.
Situs http://www.crayonpedia.
org/mw/Sistem
_Ekskresi_Pada_Manusia
_Dan_Hubungannya
_Dengan_Kesehatan_9.1      
5    Menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi, dan  proses yang meliputi pembentukan sel kelamin, ovulasi, menstruasi, dan pemberian ASI, serta kelainan penyakit yang dapat terjadi pada sistem reproduksi manusia.    5.7.    Struktur dan fungsi alat-alat reproduksi pada laki-laki dan wanita. Sistem reproduksi manusia ada yang terdapat dalam rongga tubuh dan tampak dari luar tubuh
5.8.    Proses pembentukan sel kelamin proses pembentukan kelamin meliputi sperma dan sel telur.
5.4.    Menstruasi. Wanita mengalami masa menstruasi setiap kurun 28 hari setiap bulan. Menstruasi merupakan salah satu kekhasan makhluk hidup golongan primata.
5.5.    Fertilisasi, gestasi dan persalinan.
5.7. Kelainan / penyakit yang terjadi. Beberapa penyakit/gangguan seperti keputihan, kanker rahim, mandul dsb.

    Pre-connection (persiapan)

Mulai sesi

Pembukaan komentar dan pengenalan guru

Masing – masing siswa memberikan argumennya dan siswa lain memberikan sanggahan.

Guru memberikan penjelasan tentang pembentukian sel kelamin, ovum, serta memperlihatkan torso organ yg berkaitan.    Masing – masing siswa memrhatikan dirinya, dan memberikan penjelasan tentang perkembangan fisik nya, khususnya yg wanita.
Saling memberikan masukan.    Menggambarkan dan menjelaskan lagi tentang system  pembentukan sel kelamin, ovulasi, dan pemberian ASI.    180 menit    Buku pengangan siswa.
Situs
http://www.authorstream
.com/Presentation
/mellakurniawati-401335-reproduksi-pada-
manusia-kelas-ix-folder-3-tugas-bio-ict-education-ppt-powerpoint/   

Peranan TI sebagai Pembelajaran di Sekolah

PERANAN TI SEBAGAI PEMBELAJARAN DI SEKOLAH
Oleh: Ivawani Hasibuan
PENDAHULUAN
Internet adalah "Alat Bantu", bukan "Solusi Pendidikan" (di tingkat Sekolah). Internet (tanpa bahasa Inggris) sebagai sumber informasi yang sangat terbatas. Bahan pelajaran (dalam bahasa Indonesia) juga sangat sedikit. Kelihatannya kurikulum kita juga tidak berbasis-penelitian, jadi untuk apa Internet di sekolah? Internet di sekolah jelas bukan prioritas kan? (Informasi Lanjut)
Pendidikan Yang Bermutu adalah:
Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang,  dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara PAKEM (Pembelajaran Kontekstual). ("Mampu" termasuk Kreatif)
Kami di Pendidikan.Net work sudah terus mendukung perkembangan teknologi di DepDikNas maupun di sekolah sejak tahun 1998. Tetapi kami juga wajib untuk memonitor perkembangan teknologi dari sisi keuntungan dan kemajuan mutu pendidikan secara rialistik dan holistik, kalau tidak, kita dapat lebih mundur dan hanya menghabiskan banyak dana pendidikan yang sedang kurang. Adapun permasalahan yang akan dibahas di artikel ini yaitu Apakah pembelajaran teknologi di sekolah adalah penting?
Sehingga artikel ini juga mempunyai tujuan membahas bagaimana cara memenuhi Tanggung jawab sekolah yang besar dalam memasuki era globalisasi untuk mempersiapkan siswa-siswi menghadapi tantangan-tantangan yang sangat cepat perubahannya. Salah satu dari tantangan yang dihadapi oleh para siswa adalah menjadi pekerja yang bermutu. Kemampuan berbicara dalam bahasa asing, kemahiran komputer dan Internet, dan kemampuan menggunakan program-program seperti Microsoft merupakan tiga kriteria utama yang pada umumnya diajukan sebagai syarat untuk memasuki lapangan kerja di Indonesia (dan di seluruh dunia).


PEMBAHASAN
1.    Pentingya TI di sekolahan
Mengingat hanya sekitar 30% dari lulusan SMA di seluruh wilayah Nusantara ini yang melanjutkan ke tingkat perguruan tinggi formal, dan dengan adanya komputer yang telah merambah di segala bidang kehidupan manusia, maka dibutuhkan suatu tanggung jawab yang besar terhadap system pendidikan untuk meningkatkan kemampuan berbahasa dan kemahiran komputer bagi para siswa kita. Pembelajaran teknologi adalah sangat penting dan semua sekolah adalah wajib untuk mengajar Teknologi Informasi Komunikasi (TIK).
Walapun kita sangat mendukung pembelajaran teknologi, kita juga harus menjaga bahwa "teknologi pembelajaran", yang hanya sebagai beberapa medium untuk menyampaikan pendidikan dan belum tentu meningkatkan mutu pendidikannya, tidak menjadi fokusnya mamajemen pendidikan  sampai merugikan aspek-aspek lain yang betul dapat meningkatkan mutu pendidikan.
Misalnya, JarDikNas. Salah satu tujuan utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat informasi yang lebih lengkap. Tetapi kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di lapangan sudah banyak sekali. Termasuk informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang ambruk dan mengancam keamanan anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan diatasi? Misalnya, Meningkatkan Peran dan Mutu Perpustakaan Sekolah. Apakah hal utama adalah "Library Management System"?
2.    Apakah Teknologi Adalah Solusi Perpustakaan?
Implementasi teknologi di bidang pendidikan perlu diintegrasikan ke dalam perencanaan (master plan) terhadap semua aspek pengembangan pendidikan secara seimbang (bukan secara proyek). Sering pengumuman yang muncul di media mengenai teknologi di arena pendidikan kelihatannya kurang menilaikan penelitian dan pengalaman di dunia pendidikan. Kasus-kasus teknologi dan pendidikan tertentu kelihatannya juga diangkat sebagai solusi umum.
Padahal ada hal-hal yang perlu diatasi dulu misalnya: "Sekolah tak Bisa Tangkal Situs Porno" yang akan perlu SDM di tingkat sekolah yang sangat bermutu dan rajin.
Memang kita wajib untuk mencari solusi yang kreatif, tetapi kita juga wajib untuk belajar dari pengalaman-pengalaman yang ada di dunia supaya kita tidak hanya mengulangkan kegagalan negara lain. Kelihatannya pertanyaan-pertanyaan dasar yang penting sering tidak ditanyakan, seperti, mengapa di negara-negara maju mereka tidak melaksanakan ini? Mengapa di negara mana saja dasarnya pendidikan masih berbasis-kelas konvensional, bukan berbasis-TI? Mungkin negara lain belum memikirkan? Percayalah, dunia pendidikan termasuk bidang yang paling rajin untuk mencari kesempatan untuk menggunakan teknologi. Sering isu pendidikan dan 'teknologi baru' sudah dibahas dan diuji coba sebelum teknologinya muncul di pasar.
Yang perlu diperhatikan adalah inovasi-inovasi baru (dan sering yang tidak baru) akan ditunjuk dan didorongkan oleh perusahaan-perusahaan teknologi yang sangat beruntung kalau teknologinya didadopsi di dunia pendidikan. 'Tetapi kita sebagai pendidik harus selalu melihat semua aplikasi teknologi dari kenyataan dan keuntungan terhadap mutu pendidikan' (bukan dari retorika).

Apakah karena makin banyak siswa-siswi sekarang main Internet di warnet daripada menggunakan waktunya di rumah untuk mengulang pelajaran dari sekolah dan mengerjakan Pekerjaan Rumahnya ini sebagai salah satu faktor penyebab hasil Ujian Nasional (UN) kelihatannya menjadi lebih buruk?
Kita perlu tahu!
Kalau kita melihat beberapa macam teknologi pendidikan, misalnya; Whiteboard-Elektronik, OHP, Video, Televisi, e-Learning, Internet, dll, selalu mutu akhirnya 100% tergantung mutu content dan proses pengajaran. Teknologi sendiri hanya sebagai medium. Kalau berhasil atau gagal tergantung content dan proses pengajaran, bukan teknologinya. Dengan teknologi seperti TV-Edukasi misalnya, siaran TV masuk sekolah kayaknya gagal karena kurang meneliti pengalaman-pengalaman di negara lain, dan juga tidak melihat dari keadaan dan keperluan guru di sekolah. Hasil sekolah 100% tergantung mutu pendidikannya, bukan teknologi yang mereka menggunakan untuk menyampaikan pendidikannya.
Kebetulan kemarin di seminar "Cutting Cost with ICT Convergence" salah satu wilayah yang disebut yang belum memasang teknologi wireless adalah daerah Pacitan. Pacitan adalah salah satu daerah di mana kami sudah menyaksikan pelaksanan pendidikan yang sangat bermutu. Guru-gurunya bersemangat melaksanakan PAKEM dan sangat mengembankan kreativitas siswa-siswinya. Sekolah-sekolah yang belum terlatih juga belajar PAKEM secara mandiri. Ini perlu kita contoh.
KESIMPULAN    
Pendidikan Berbasis-Guru yang Mampu dan Sejahtera, di Sekolah yang Bermutu, dengan Kurikulum yang Sesuai dengan Kebutuhan Siswa-Siswi dan "Well Balanced" (seimbang,  dengan banyak macam keterampilan termasuk teknologi), yang Diimplementasikan secara PAKEM adalah solusi utama untuk menyiapkan anak-anak kita untuk menghadapi  tantangan-tantangan masa depan.
Pembelajaran Teknologi Informasi Komunikasi (TIK) adalah hal yang sangat penting di semua sekolah. Tetapi akses ke Internet untuk siswa-siswi di sekolah di luar pelatihan khusus sebenarnya tidak begitu penting, kecuali untuk melanjutkan pelajaran yang dibimbing oleh guru.
Pasti banyak siswa-siswi tidak akan setuju karena main Internet memang "fun", tetapi kami belum melihat bukti bahwa anak-anak sekolah yang sering menggunakan Internet secara bebas lebih berhasil di UN daripada yang menggunakan waktunya untuk mengulang pelajaran sekolahnya dan rajin mengerjakan Pekerjaan Rumahnya. Mungkin sebaliknya?
Suka atau tidak suka, siswa-siswi kita akan dinilai dari hasil mereka di UN atau Ujian Sekolah (bukan dari kemampuan mereka "Chatting di Internet"). Selain masalah ujian, kapan siswa-siswi akan punya waktu di sekolah dengan kurikulum yang sangat padat untuk menggunakan Internet kecuali di kelas TI. Apakah kita ingin mengganti guru dengan pelajaran dari Internet (machine)? Yang sudah sering dicoba di negara lain!
Sekarang kita sedang mencoba "Sistem Pembelajaran Berbasis-TI". Kami pertama kali kenal Pembelajaran Berbasis-TI pada tahun 1992 di luar negeri, memang bukan sesuatu yang baru dan masih hanya digunakan di kursus/kelas tertentu saja. Tetapi kalau kreativitas sebagian dari siswa-siswi kita dapat ditingkatkan oleh 'membuat program-program' seperti ini yaitu memang baik.
Kita lihat bahwa pemerintah akan siapkan Rp 1 Triliun untuk "melengkapi laboratorium komputer" di sekolah-sekolah SMP/SMA/SMK untuk e-learning. Tetapi kalau sekolahnya hanya memiliki satu laboratorium komputer itu pasti akan dipakai terus untuk mengajar TI, bukan?. Apakah semua sekolah akan menerima cukup komputer untuk melengkapi beberapa lab/kelas?

SARAN
Apakah "Pembelajaran Berbasis-TI" atau "E-Learning" betul adalah solusi rialistik untuk seluruh Indonesia? Atau, Pembelajaran Berbasis-TI hanya akan membesarkan jaraknya lagi antara sekolah yang punya dan yang tidak? Memang semua sekolah wajib untuk mempunyai lab komputer untuk mengajar TI (ini saja belum), tetapi kita akan perlu beberapa kelas lagi (di semua sekolah) yang dilengkapi dengan komputer supaya mata pelajaran yang lain juga dapat menggunakan komputer. Kalau kita melihat dari harga teknologinya (yang setiap beberapa tahun perlu diupdate), kurikulum yang sering dirubah, ongkos pemiliharaan teknologinya, dan lain - lain, dengan anggaran yang sekarang tidak cukup untuk mengelola pendidikan 'Berbasis-Guru' dengan baik atau meningkatkan kesejahteraan guru dan staf TU sampai jadi manusiawi, bagaimana mungkin?
Mengapa kita selalu mencari solusi baru (yang sering tidak baru seperti TV-Edukasi atau Pembelajaran Berbasis-TI) untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia? Apakah karena alokasi anggaran memang tidak cukup untuk memperbaiki pendidikannya dan kita hanya mencari kesibukan? Atau karena paradigma lama kita (proyek) belum merubah sejak awal? Mengapa teknologi sering dianggap sebagai solusinya?
Misalnya, sekarang DepDikNas sedang membangun jaringan JarDikNas. Salah satu tujuan utama adalah meningkatkan mutu pendidikan lewat informasi yang lebih lengkap. Tetapi kelihatannya informasi mengenai masalah-masalah di lapangan sudah banyak sekali. Termasuk informasi mengenai keadaan di banyak sekolah yang ambruk dan mengancam keamanan anak-anak kita. Kapan masalah-masalah begini akan diatasi?
Apakah tidak lebih baik kalau kita menggunakan 100% dari anggaran Rp.42 triliun itu untuk mengatasi hal-hal yang sudah jelas dapat meningkatkan mutu pendidikan di tingkat sekolah, sesuai pemintaan dari lapangan dan perencanaan terhadap semua aspek kebutuhan sekolah?
Maksud saya, kalau atap sekolahnya bocor dan mau ambruk, tetapi yang diberikan adalah sambungan ke Internat, apakah ini betul bermanfaat? Kita perlu mulai dengan sekolah yang paling ketinggalan supaya mengarah ke keadilan akses pendidikan yang bermutu (dan melihat dari segala aspek). Tetapi karena JarDikNas sudah berjalan sebaiknya kita "Berfikir Optimis" dan mudah-mudahan banyak sekolah akan diberikan komputer, kalau betul ini memang positif.  Memang sulit untuk "berpikir optimis"!
"Kata Menkominfo, akses-akses informasi pada jaringan ICT tersebut, akan ditekankan pada unsur e-education (pendidikan), e-health (kesehatan), dan e-economy (ekonomi) yang dapat mengurangi gap di bidang ICT antara daerah pedesaan dan daerah perkotaan". Tetapi ini akan sangat tergantung peran dan mutunya SDM di pemerintah, bukan?.

REFERENSI
http://www.slideshare.net/dewi04/manfaat-pembelajaran-berbasis-it-di-sekolah. Diakses 20 Pebruari 2011
http://elearningsmkn1trucuk.wordpress.com/2009/07/15/hello-world/.Diakses. Diakses 19 Pebruari 2011.

Arah Pembelajaran Biologi Era Globalisasi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang Masalah

        Masyarakat tidak bersifat statis, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat selalu mengalami perubahan, bergerak menuju perkembangan yang kompleks. Perubahan bukan terjadi pada sistem nilai saja tetapi pada pola kehidupan, struktur social, Kebutuhan dan tuntutan masyarakat.

        Mengamati perubahan yang berlangsung di masyarakat maka proses pembelajaran dalam pola pendidikan di Indonesia abad ke 21 pendidikan dilihat mulai dari input, proses, output dan outcome sistem pendidikan. Mekanisme seleksi siswa sekarang ini banyak mengandung unsur KKN atau praktek politik dagang kambing, siapa yang berani harga tinggi akan mendapat kesempatan untuk mengenyam sekolah bermutu atau favorit, sehingga ada jaminan diakses pasar kerja lebih cepat terutama untuk perguruan tinggi.

        Ini salah satu masalah dalam dunia pendidikan sekarang ini, dan merupakan tuntutan era globalisasi, mendorong trend berkembangnya pola pendidikan di Indonesia ke arah pendidikan yang materialistik. Kondisi ini telah memicu pergeseran paradigma pendidikan di segala aspek terutama yang terkait dengan refleksi pendidikan, yang pada hakekatnya harus mengutamakan kebutuhan peserta didik.
        Biologi sebagai salah satu ilmu dasar selalu mengalami perkembangan, apalagi pada abad 21 sudah dapat diduga bahwa biologi akan berkembang pesat. Apabila pendidikan memang bertujuan untuk mencerdaskan anak bangsa dan mengantarkan mereka untuk dapat memahami serta mengelolanya dengan baik, berarti konsep yang diberikan harus seirama dengan kemajuan Ilmu dan Teknologi pada era Globalisasi ini. Salah satu dari kecendrungan perubahan dunia yang dikemukakan oleh Nisbitt dan aburdene (1990) adalah kemungkinan “jaman biologi menggantikan jaman fisika”. Perubahan kedudukan Biologi tersebut jelas merupakan tantangan bagi para Biologiwan dan pendidik Biologi. Untuk menghadapi tantangan tersebut perlu dipersiapkan generasi muda yang tangguh. Dengan kata lain kita perlu mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas.
        Mempersiapkan SDM yang berkualitas berarti memberdayakan manusia seutuhnya, yaitu segi fisik dan cara berfikirnya. Mereka seyogyanya kritis dan memiliki kesadaran akan pentingnya melestarikan fungsi lingkungan untuk keperluan generasi mereka dan generasi yang akan datang dalam mengelola sumber daya alam Hayati.
 
1.2 Rumusan Masalah

        Dalam makalah ini masalah yang akan dirumuskan apakah masalah - masalah yang bekaitan dengan pembelajaran pendidikan biologi pada masa era globalisasi dan bagaiman arah generasi muda mengalami belajar biologi sebagai suatu kebutuhan dan bekal dalam masyarakat dan Negara.

1.3 Tujuan Masalah

        Tujuan dalam makalah ini agar dapat memberi solusi dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan pembelajaran pendidikan biologi pada masa sekarang atau masa globalisasi dan bagaimana usaha dalam proses belajar mengajar agar dalam kehidupan masyarakat generasi yang berkompeten dapat berinteraksi dengan lingkungan alamnya.


BAB II
ISI

2.1. Perkembangan Ilmu dan teknologi dalam Biologi
        Biologi berkembang sangat pesat dengan bantuan ilmu lain (seperti Biokimia dan fisika) setelah ditemukan mikroskop electron dan tekhnik – tekhnik Biologi yang canggih. Khususnya Biologi Sel, Biolgi Molekuler, dan Bioteknologi. Temuan adanya sel – sel prokariot dan komposisi dinding yang berbeda pada jamur dan tumbuhan mengubah cara berfikir dan klasifikasi organisme yang ada di Bumi. Kriteria sebagai dasar pengelompokkan mengalami perkembangan sehingga organisme tidak lagi hanya dikategorikan dengan hewan dan tumbuhan. Sekarang rRNA digunakan sebagai kriteria/dasar pengelompokkan lintas dunia bahkan domain.
        Peledakan penduduk di Indonesia yang menuntut pemenuhan kebutuhan primer bahkan sekunder menyebabkan berkembang Amdal sekitar tahun 1970an sampai awal 1980an. Selanjutnya pembangunan fisik di Negara kita yang makin merambah ke Pengunungan dan daerah aliran sungai, hutan, lepas pantai, sehingga diperlukan Biologi manejemen. Apalagi setelah itu?
        Mengingat species – species yang sudah dikenal dan diberdayakan masih terbatas dan masih pada organisme sel eukariot, sedangkan sel prokariot masih butuh sentuhan – sentuhan tangan oleh para ahli Biologiwan di universitas – universitas Indonesia agar dapat mengharumkan nama bangsa dan diperhitungkan pada level Internasional.  

2.2. Kecendrungan Masyarakat Dalam Era Informasi dan Globalisasi
        Masyarakat masa depan adalah masyarakat Informasi (Tilaar, 1990). Masyarakat semacam itu memerlukan anggota masyarakat yang dapat memilih dari segala macam alternative. Dengan tersedianya informasi manusia perlu menyusunnya agar dapat bermanfaat untuk mengungkapkan pemikirannya secara jelas. Sejalan dengan itu, buah pikiran yang jelas harus dapat dikomunikasikan secara efektif. Melihat hubungan kepada manusia dengan lingkungannya yang bukan bersifat konfrontatif dan menguasai, maka manusia harus memiliki pemahaman yang jelas tentang lingkungannya. Pendidikan lingkungan hidup, baik lingkungan social maupun lingkungan alam merupakan syarat mutlak bagi manusia abad 21. Selanjutnya dengan kemungkinan yang hampir tidak terbatas untuk memperoleh informasi, manusia mempunyai kesempatan luas untuk mengembangkan kemampuan serta potensi pribadinya.
        Membaca merupakan salah satu cara yang efektif untuk memperoleh informasi dengan mengembangkan kemampuan dan potensi pribadi dan dapat berkembang pesat. Berdasarkan pengalaman (Rivai 1994) ada peserta lomba karya ilmiah yang sangat kreatif, inovatif, dan berkemampuan dan kritis. Mereka tidak segan melahap buku pelajaran untuk Perguruan Tinggi bila mereka perlukan. Selanjutnya menurut Rivai kelemahan penyuguhan – penyuguhan buku pelajaran di SMA adalah tidak terbinanya kemampuan anak didik untuk memberikan alternative pada permasalahan yang dihadapi. Sukar dicari produk pendidikan SMA yang mau, dapat, merasa yakin dan mampu menata diri secara otodidak. Padahal kemampuan itu sangat diperlukan pada era Globalisasi.
        Tantangan yang dihadapi ssekarang adalah kurangnya minat baca masayarakat kita. Selain kurang minat membaca, kemampuan membacanya juga tidak tinggi. Dalam hal kemampuan membaca, Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah, diatas salah satu Negara dari Amerika Latin (Moengiadi 1987). Berkemauan membaca sumber tidak banyak gunanya jika tidak berkemampuan untuk mengambil maknanya. Makna tidak terpampang begitu saja dalam buku atau artikel yang dibaca. Membaca merupakan proses interaksi anatra pembaca, informasi yang dituangkan dalam teks, dan karektiristik isi. Tujuan dari membaca adalah membangun makna dari teks tersebut (Jones 1985). Dari sudut pandang kognitif, pemahaman membaca merupakan proses yang kompleks dan tersusun dari proses – proses yang saling berkaitan (Beck, 1989).

2.3. Keadaan Pembelajaran Pendidikan Biologi di Indonesia

        Para ahli mengatakan bahwa abad 21 merupakan abad pengetahuan karena pengetahuan menjadi landasan utama segala aspek kehidupan. Menurut Naisbit (1995) ada 8 kecenderungan besar yang akan terjadi pada pendidikan di abad 21 yaitu;

(1) dari masyarakat industri ke masyarakat informasi,

(2) dari teknologi yang dipaksakan ke teknologi tinggi,

(3) dari ekonomi nasional ke ekonomi dunia,

(4) dari perencanaan jangka pendek ke perencanaan jangka panjang,

(5) dari sentralisasi ke desentralisasi,

(6) dari bantuan institusional ke bantuan diri,

(7) dari demokrasi perwakilan ke demokrasi partisipatoris,

(8) dari hierarki-hierarki ke penjaringan,

        Sedangkan hasil pendidikan yang diharapkan anak didik dapat terefleksi pada profil lulusan yang memiliki karakter : rasa menghargai keberadaan dirinya sendiri, rasa percaya diri, komunikatif, kemampuan berpikir kritis, jiwa kebersamaan, rasa dan jiwa bertanggung jawab, kepekaan dan komitmen sosial, pemahaman terhadap sistem politik dan budaya, mampu berpikir ke depan (visi), mampu berkreasi dan berimajinasi, serta mampu melakukan refleksi dan evaluasi.

        Dalam keluarga dan masyarakat maupun sekolah sebagai satu - satunya jalur yang dapat ditempuh untuk mencetak generasi yang akan mengukir profil atau status atau karakter bangsa Indonesia, di era modren ini nampaknya mulai mengalami erosi. Kelemahan sistem pendidikan saat ini antara lain disebabkan oleh peran keluarga terutama orang tua yang tidak optimal sebagai pendidik, misalnya karena maraknya konsep gender. Jaminan bahwa setiap anak akan mendapat pendidikan yang baik dan benar masih perlu dipertanyakan. Pelayanan dan pendidikan di lingkungan luar sekolah khususnya keluarga mendidik para generasi mulai bayi, balita, anak-anak sampai dewasa sebagian dilihat masih bersifat materilistis dan memenjakan si anak tanpa mendidik anak menjadi anak yang matang kepribadiannya atau karakternya untuk mencapai masa globalisasi ( masa yang akan datang ). Dunia pendidikan memiliki andil yang tidak kecil terkait krisis multidimensi, karena tidak mampu melahirkan pribadi - pribadi utuh yang mampu menyelesaikan problematika bangsa. hingga diharapkan adanya kerjasama para pendidik khususnya guru dan orang tua untuk ikut berperan dalam melaksanakan pencapaian manusia yang berkarakter.

        Sehingga hasil pendidikan dapat terefleksi pada profil lulusan yang memiliki karakter: rasa menghargai keberadaan dirinya sendiri, rasa percaya diri, komunikatif, kemampuan berpikir kritis, jiwa kebersamaan, rasa dan jiwa bertanggung jawab, kepekaan dan komitmen sosial, pemahaman terhadap sistem politik dan budaya, mampu berpikir ke depan (visi), mampu berkreasi dan berimajinasi, serta mampu melakukan refleksi dan evaluasi.

        Akan tetapi belakangan ini banyak sekali masalah yang ada dalam dunia pendidikan. Yang mana pemerintah dapat memperbaikinya dengan empat unsur antara lain: kebijakan pemerintah di bidang pendidikan, sistem pendidikan, manajemen pendidikan, dan proses pembelajaran. Kebijakan pemerintah di bidang pendidikan yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) mengamanatkan bahwa perguruan tinggi harus otonom, yang berarti mampu mengelola secara mandiri lembaganya serta dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan. Untuk sekolah/madarasah harus dikelola dengan prinsip manajemen sekolah/madarasah, yang berarti otonomi manajemen pendidikan pada satuan pendidikan. Fakta menunjukkan bahwa wewenang otonomi yang diberikan kepada lembaga dengan tujuan agar meningkatkan tumbuh dan berkembangnya kreativitas, inovasi, mutu, fleksibilitas, dan mobilitas, diterjemahkan lain.

        Untuk mewujudkan otonomi tersebut, maka UU Sisdiknas menentukan bahwa penyelenggara satuan pendidikan formal yang didirikan oleh pemerintah atau masyarakat harus berbentuk badan hukum (BHP) dengan persyaratan tertentu. Ada pernyataan bahwa prinsip manajemen atau pengelolaan BHP tidak mengarah pada komersialisasi atau privatisasi.

2.4. Pengembangan Kurikulum dan Proses Penyusunan Buku Ajar
        Tilaar (1990) menekankan pentingnya peranan pendidikan dalam membangun masa depan. Setelah mengetahui batas – batas pertumbuhan yang dapat ditolerir oleh planet bumi, manusia dapat bersikap sebagai berikut: bersikap sebagai boneka dari berbagai kekuatan diluar dirinya  yang sebagian juga merupakan hasil karyanya atau menjadi penguasa atas karyanya sendiri. Contohnya kualitas yang kita inginkan berngantung dari sikap kita terhadap lingkungan alam yang kita ubah menjadi alam buatan.
        Ciri masa depan adalah masyarakat informasi akibat kemajuan Teknologi. Begitu banyak informasi akan menimbun sehingga manusia harus dapat memilih dan memanfaatkannya untuk pengembangan pribadinya. Proses belajar dengan cara “menyuapi” atau mekanistiks akan membawa anak didik kepada “shock” masa depan. Yang jelas dalam masyarakat informasi kita akan lebih sering digunakan daya akal (otak) dari pada daya fisik (otot). 
        Proses belajar yang antisipatoris dan partisipatif merupakan belajar inofatif  yang mungkin akan cocok dengan keadaan masyarakat informasi dan global, tetapi pengelolaannya sukar. Ada yang mengkhawatirkan bahwa dengan datangnya masyarakat infonnasi, manusia akan kehilangan kepribadiannya. Namun ada juga yang berpendapat bahwa masyarakat informasi akan membuka cakrawala yang lebih luas untuk belajar, belajar tanpa batas.
        Tampaknya pendidikan yang seimbang antara kebutuhan lahiriah dan batiniah menjadi tujuan pendidikan nasional. Pendidikan diarahkan kepada terwujudnya manusia Indonesia yang sadar berada dalam lingkungannya dan mengenai lingkungannya. Kesadaran akan lingkungan berarti sadar akan lingkungan vertical dan horizontal. Manusia Indonesia seutuhnya tidak lebur dalam lingungannya, tetapi bertanggung jawab atas lingkungannya, terhadap alam sekitarnya, dan sang penciptanya. Dia menguasai alam sekitarnya sekaligus menjadi pemelihara. Baginya ilmu pengetahuan dan teknologi bukanlah tujuan, melainkan alat atau wahana.
        Jika bekal untuk mengembangkan potensi dirinya dapat ditransfer melalui pendidikan, maka pendidikan Biologi mempunyai peluang yang sangat besar dan sangat tepat untuk mencapai hal tersebut. Berpikir Biologi (bernalar verbal) dalam berbagai bentuk dapat dikembangkan melalui pembelajaran Biologi yang sesuai dengan karekteristik materinya. Misalnya berpikir klasifikasi melalui sistematik, berfikir sibernatik melalui fisiologi, berfikir probabilitas melalui genetika, berfikir antiseptic melalui mikrobiologi. Bekal berfikir semacam itu akan sangat diperlukan bagi genegrasi muda Indonesia untuk berkompetisi dengan pemuda lain dalam era globalisasi.
        Kurikulum tingkat satuan pendidikan mungkin salah satu alternative dalam menjawab tantangan perkembangan IPTEK. Khusus untuk Biologi dari SD hingga SMU diupayakan ada bekerja ilmiah yang terdiri dari sejumlah keterampilan proses yang perlu dikuasai untuk kemudian diaplikasiakn untuk pembelajaran konsep. Berpikir melalui Biologi dan mendidik melalui Biologi diharapkan dapat menghasilkan manusia Indonesia seutuhnya sebagaimana dijelaskan diatas.
        Bagaimana dengan pengadaan bukunya? Sukses tim penulis buku paket dalam bahan ajar untuk kurikulum 1975 erat berkaitan dengan “oil Blooming” dan kompkanya tim penulis pada saat itu. Para penulis tidak perlu mencari pangsa pasar untuk menjua karya tulisannya. Para Biologiwan bahu membahu untuk menuangkan kemampuan dan pengetahuan menyajikannya dalam buku paket yang disusun. Buku paket disusun dengan tujuan menyederhanakan kerumitan pengadaan buku pelajaran. Hal itu sangat berbeda dengan keadaan sekarang yang justru para penerbit berlomba – lomba untuk menjual buku pelajran untuk mendapatkan keuntungan yang besar.
        Buku ajar biologi sebaiknya ditulis dengan melibatkan 3 komponen, yaitu:
1.    guru pada jenjangnya, bertanggung jawab pada keterbacaan dan ilmu praktisnya
2.    biologiwan, bertanggung jawab pada kemutahiran dan kebenaran ilmunya
3.    dan pendidik biologi, bertanggung jawab dalam penyajiannya.
Bagaimanapun buku merupakan ringkasan, bukan buku yang kita idam – idamkan, karena tida melibatkan proses berfikir anak didik.

2.5. Harapan arah Pembelajaran Biologi di abad 21 (Era Globalisasi)

        Memberikan peluang dan tantangan yang besar bagi perkembangan profesional, baik pada preservice dan inservice guru-guru kita. Profesionalisme sebagai penunjang kelancaran guru dalam melaksanakan tugasnya, sangat dipengaruhi oleh dua faktor besar yaitu faktor internal yang meliputi minat dan bakat dan faktor eksternal yaitu berkaitan dengan lingkungan sekitar, sarana prasarana, serta berbagai latihan yang dilakukan guru.

Guru profesional harus mampu mengembangkan sepuluh kemampuan dasar yang
harus dimiliki.

1) Penguasaan bahan ajar dan konsep-konsep dasar keilmuan.

2) Pengelolaan program belajar-mengajar.

3) Pengelolaan kelas.

4) Penggunaan media dan sumber pembelajaran.

5) Penguasaan landasan-landasan kependidikan.

6) Pengelolaan interaksi belajar mengajar.

7) Penilaian prestasi siswa.

8) Pengenalan fungsi dan program bimbingan konseling.

9) Pengenalan dan penyelenggaraan administrasi sekolah,

10) Pemahaman prinsip-prinsip dan pemanfaatan hasil penelitian pendidikan untuk kepentingan peningkatan mutu pelajaran.
       
        Pendidikan di abad pengetahuan menuntut adanya manajemen pendidikan yang modern dan profesional dengan bernuansa pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan diharapkan mampu mewujudkan peranannya secara efektif dengan keunggulan dalam kepemimpinan, staf, proses belajar mengajar, pengembangan staf, kurikulum, tujuan dan harapan, iklim sekolah, penilaian diri, komunikasi, dan keterlibatan orang tua/masyarakat.
Trilling dan Hood (1999) mengemukakan bahwa perhatian utama pendidikan di abad 21 adalah untuk mempersiapkan hidup dan kerja bagi masyarakat. Nilai-nilai keluarga hendaknya tetap dilestarikan dalam berbagai lingkungan pendidikan;

1) Asas belajar sepanjang hayat harus menjadi landasan utama dalam mewujudkan pendidikan untuk mengimbangi tantangan perkembangan jaman

2) Penggunaan berbagai inovasi Iptek terutama media elektronik, informatika, dan komunikasi dalam berbagai kegiatan pendidikan

3) Penyediaan perpustakaan dan sumber-sumber belajar sangat diperlukan dalam menunjang upaya pendidikan dalam pendidikan

4) Publikasi dan penelitian dalam bidang pendidikan dan bidang lain yang terkait, merupakan suatu kebutuhan nyata bagi pendidikan di abad pengetahuan.

        Tata sosial yang kapitalissekuler menyajikan menu individualis dan materialis yang harus disantap oleh para generasi mulai bayi, balita, anak-anak sampai dewasa. Dunia pendidikan memiliki andil yang tidak kecil terkait krisis multidimensi, karena tidak mampu melahirkan pribadi-pribadi utuh yang mampu menyelesaikan problematika bangsa.

        Mengembangkan kurikulum yang konsisten secara konseptual, memang tidak mudah. Lebih tidak mudah lagi mengimplementasikannya. Apalagi jika penerapan kurikulum baru itu tidak disertai dengan penyiapan lapangan yang baik. Perubahan kurikulum bukan sekedar pergantian dokumen. Melainkan berimplikasi luas terhadap perubahan paradigma, kebiasaan, dan kemampuan lama menuju yang baru. Dan diharapkan setiap pergantian kurikulum oleh pemerintah tidak mempersulit guru dalam mengaplikasikan kurikulum baru tersebut dan dapat dilaksanakan pada proses belajar mengajar mulai dari kota besar sampai ke daerah terpencil, sehingga anak didik menjadi anak yang berilmu pengetahuan yang tinggi dan berkarakter sesuai dengan tujuan kurikulum tersebut.

        Akhirnya yang paling penting, paradigma baru pembelajaran ini memberikan peluang dan tantangan yang besar bagi perkembangan profesional, baik pada preservice dan inservice guru-guru kita. Di banyak hal, paradigma ini menggambarkan redefinisi profesi pengajaran dan peran-peran yang dimainkan guru dalam proses pembelajaran. Meskipun kebutuhan untuk merawat, mengasuh, menyayangi dan mengembangkan anak-anak kita secara maksimal itu akan selalu tetap berada dalam genggaman pengajaran, tuntutan-tuntutan baru Abad Pengetahuan menghasilkan sederet prinsip pembelajaran baru dan perilaku yang harus dipraktikkan. Berdasarkan gambaran pembelajaran di abad pengetahuan di atas, nampaklah bahwa pentingnya pengembangan profesi guru dalam menghadapi berbagai tantangan ini.

BAB III
PENUTUP


3.1 KESIMPULAN

1. Perhatian utama pendidikan di abad 21 adalah untuk mempersiapkan hidup dan kerja bagi  masyarakat. Nilai-nilai keluarga hendaknya tetap dilestarikan dalam berbagai lingkungan pendidikan.

2. Paradigma baru pembelajaran ini memberikan peluang dan tantangan yang besar bagi perkembangan profesional, baik pada preservice dan inservice guru-guru kita.

3. Hambatan – hambatan dalam pengembangan kurikulum khususnya pada guru. Guru yang kurang berpartisipasi dalam mendesain pengembangan kurikulum karena kurangnya waktu, kekurangkesesuaian pendapat antara guru maupun dengan sekolah atau administrator, karena kemampuan dan pengetahuan guru itu sendiri, hambatan yang lain datangnya dari masyarakat baik dalam pembiayaan maupun umpan balik dari masyarakat terhadap pendidikan dan kurikulum yang berlangsung.

4. Fungsi pendidikan dahulu dan sekarang sudah berubah, dalam masyarakat dahulu persekolahan berfungsi untuk memelihara dan meneruskan nilai nilai yang ada sejak dahulu. Sedangkan masa sekarang pendidikan sekarang didasarkan pada filsafat pendidikan yang jelas, masalah atau topik tertentu sehingga pendidikan yang didapatkan berdasarkan pengalaman sendiri dan diharapkan dapat diaplikasikan secara langsung kepada masyarakat.


3.2 SARAN

1. Perkembangan biologi yang begitu pesat menuntut perkembangan cara berpikir, bersikap manusia Indonesia. Menghadapi masa depan yang penuh tantangan tersebut, proses belajar mengajar Biologi bukan hanya mengajar Biologi sebagai produk berupa konsep atau prinsip Biologi, tetapi juga mengajar melalui Biologi. Mempersiapkan manusia Indonesia seutuhnya dalam era informasi dan globalisasi menuntut pembelajaran yang inovatif berupa pembelajaran yang antisipatoris dan parsipatif. Bekal cara berfikir Biologi dan Pengetahuan Biologi diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan sehat. Pengetahuan tentang sel pada tingkat pendidikan dasar dapat digunakan untuk memilih makanan (buah atau sayur) dari pada jajanan dari tepung dan zat – zat adiktif misalnya. Atau pengetahuan tentang hubungan timbal balik antara factor biotik dan abiotic serta pencernaan dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat yang tidak mengambil hak orang lain untuk menghirup udara yang tidak tercemar asap rokok di dalam ruangan.

2. Makalah ini dapat diperbaharui lagi sesuai dengan kondisi ligkungan pendidikan yang dapat berubah suatu waktu.


DAFTAR PUSTAKA
Moegiadi, (1987). Guru Sebagai Determinan dalam menyukseskan pembangunan Nasional. Orasi Ilmiah pada dies natalis IKIP Bandung.
Rifai, M.A (1994). Menyiapkan Diri Belajar Biologi di Sekolah Menengah Umum. Jakarta:Pusat Perbukuan.Depdikbud.
Rustanan, N.Y. (1991). Dasar Biologi Proses Berfikir. Makalah dipresentasikan pada seminar Nasional Biologi Kongres Nasional Biologi. IPB. Bogor.
Tilaar. H.A.R. (1990).  Pendidikan Dalam pembangunan Nasional menyongsong Abad 21. Jakarta: Balai pustaka.
http://bioc.blog.com/2010/12/23/profesionalisme-guru-dalam-menghadapi-golbalisasi/. Diakses pada tanggal 6 februari 2011.

Zat Pengatur Tumbuh (Fitohormon)

BAB I
PENDAHULUAN
   
    Konsep zat pengatur tumbuh diawali dengan konsep hormon tanaman. Hormon tanaman adalah senyawa-senyawa organik tanaman yang dalam konsentrasi yang rendah mempengaruhi proses  - proses fisiologis. Proses-proses fisiologis ini terutama tentang proses pertumbuhan, differensiasi dan perkembangan tanaman. Proses - proses lain seperti pengenalan tanaman, pembukaan stomata, translokasi dan serapan hara dipengaruhi oleh hormon tanaman. Hormon tanaman kadang-kadang juga disebut fitohormon, tetapi istilah ini lebih jarang digunakan. Istilah hormon ini berasal dari bahasa Gerika yang berarti pembawa pesan kimiawi (Chemical messenger) yang mula-mula dipergunakan pada fisiologi hewan. Dengan berkembangnya pengetahuan biokimia dan dengan majunya industry kimia maka ditemukan banyak senyawa-senyawa yang mempunyai pengaruh fisiologis yang serupa dengan hormon tanaman. Senyawa-senyawa sintetik ini pada umumnya dikenal dengan nama zat pengatur tumbuh tanaman (ZPT = Plant Growth Regulator).
    Tentang senyawa hormon tanaman dan zat pengatur tumbuh, Moore mencirikannya sebagai berikut :
1. Fitohormon atau hormon tanaman adalah senyawa organik bukan nutrisi yang aktif dalam jumlah kecil (< 1mM) yang disintesis pada bagian tertentu, pada umumnya ditranslokasikan kebagian lain tanaman dimana senyawa tersebut, menghasilkan suatu tanggapan secara biokimia, fisiologis dan morfologis.
2. Zat Pengatur Tumbuh adalah senyawa organik bukan nutrisi yang dalam konsentrasi rendah (< 1 mM) mendorong, menghambat atau secara kualitatif mengubah pertumbuhan dan perkembangan tanaman.
3. Inhibitor adalah senyawa organik yang menghambat pertumbuhan secara umum dan tidak ada selang konsentrasi yang dapat mendorong pertumbuhan.
    Pertumbuhan, perkembangan, dan pergerakan tumbuhan dikendalikan beberapa golongan zat yang secara umum dikenal sebagai hormon tumbuhan atau fitohormon. Penggunaan istilah "hormon" sendiri menggunakan analogi fungsi hormon pada hewan; dan, sebagaimana pada hewan, hormon juga dihasilkan dalam jumlah yang sangat sedikit di dalam sel. Beberapa ahli berkeberatan dengan istilah ini karena fungsi beberapa hormon tertentu tumbuhan (hormon endogen, dihasilkan sendiri oleh individu yang bersangkutan) dapat diganti dengan pemberian zat-zat tertentu dari luar, misalnya dengan penyemprotan (hormon eksogen, diberikan dari luar sistem individu). Mereka lebih suka menggunakan istilah zat pengatur tumbuh (bahasa Inggris plant growth regulator).
    Hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses regulasi genetik dan berfungsi sebagai prekursor. Rangsangan lingkungan memicu terbentuknya hormon tumbuhan. Bila konsentrasi hormon telah mencapai tingkat tertentu, sejumlah gen yang semula tidak aktif akan mulai ekspresi. Dari sudut pandang evolusi, hormon tumbuhan merupakan bagian dari proses adaptasi dan pertahanan diri tumbuh-tumbuhan untuk mempertahankan kelangsungan hidup jenisnya.

















BAB II
MACAM – MACAM HORMON PERTUMBUHAN TANAMAN
    Ahli biologi tumbuhan telah mengidentifikasi 5 tipe utama ZPT yaitu auksin, sitokinin,giberelin, asam absisat dan etilen (Tabel 1). Tiap kelompok ZPT dapat menghasilkan beberapa pengaruh yaitu kelima kelompok ZPT mempengaruhi pertumbuhan, namun hanya 4  dari 5 kelompok ZPT tersebut yang mempengaruhi perkembangan tumbuhan yaitu dalam hal diferensiasi sel.
    Seperti halnya hewan, tumbuhan memproduksi ZPT dalam jumlah yang sangat sedikit, akan tetapi jumlah yang sedikit ini mampu mempengaruhi sel target. ZPT menstimulasi pertumbuhan dengan memberi isyarat kepada sel target untuk membelah atau memanjang, beberapa ZPT menghambat pertumbuhan dengan cara menghambat pembelahan atau pemanjangan sel. Sebagian besar molekul ZPT dapat mempengaruhi metabolisme dan perkembangan sel-sel tumbuhan. ZPT melakukan ini dengan cara mempengaruhi lintasan sinyal tranduksi pada sel target. Pada tumbuhan seperti halnya pada hewan, lintasan ini menyebabkan respon selular seperti mengekspresikan suatu gen, menghambat atau mengaktivasi enzim, atau mengubah membran.
    Pengaruh dari suatu ZPT bergantung pada spesies tumbuhan, situs aksi ZPT pada tumbuhan, tahap perkembangan tumbuhan dan konsentrasi ZPT. Satu ZPT tidak bekerja sendiri dalam mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan, pada umumnya keseimbangan konsentrasi dari beberapa ZPT-lah yang akan mengontrol pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan.
Tabel 1. Peranan ZPT pada pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan

ZPT    Fungsi Utama    Tempat Dihasilkan dan lokasinya pada tumbuhan      
Auksin




Sitokinin



Giberelin




Asam
absisat
(ABA)


Etilen    Mempengaruhi pertambahan panjang batang,
pertumbuhan, diferensiasi dan percabangan
akar; perkembangan buah; dominansi apikal;
fototropisme dan geotropisme.

Mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi
akar; mendorong pembelahan sel dan pertumbuhan secara umum, mendorong perkecambahan dan menunda penuaan

Mendorong perkembangan biji, perkembangan
kuncup, pemanjangan batang dan pertumbuhan
daun; mendorong pembungaan dan perkembangan buah; mempengaruhi pertumbuhan dan diferensiasi akar.

Menghambat pertumbuhan; merangsang
penutupan stomata pada waktu kekurangan air,
memper-tahankan dormansi.


Mendorong pematangan; memberikan pengaruh
yang berlawanan dengan beberapa pengaruh
auksin; mendorong atau menghambat
pertumbuhan dan? perkembangan akar, daun,
batang dan bunga.    Meristem apikal tunas
ujung, daun
muda, embrio dalam
biji.

Pada akar, embrio dan buah, berpindah dari akar ke organ lain.


Meristem apikal tunas
ujung dan akar;
daun muda; embrio.



Daun; batang, akar,
buah berwarna
hijau.


Buah yang matang,
buku pada batang,
daun yang sudah
menua.   

    Pada umumnya, hormon mengontrol pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan, dengan mempengaruhi : pembelahan sel, perpanjangan sel, dan differensiasi sel. Beberapa hormon juga menengahi respon fisiologis berjangka pendek dari tumbuhan terhadap stimulus lingkungan. Setiap hormon, mempunyai efek ganda tergantung pada : tempat kegiatannya, konsentrasinya, dan stadia perkembangan tumbuhannya.
    Hormon tumbuhan, diproduksi dalam konsentrasi yang sangat rendah; tetapi sejumlah kecil hormon dapat membuat efek yang sangat besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan organ suatu tumbuhan. Hal ini secara tidak langsung menyatakan bahwa, sinyal hormonal hendaknya diperjelas melalui beberapa cara.
    Suatu hormon, dapat berperan dengan mengubah ekspresi gen, dengan mempengaruhi aktivitas enzim yang ada, atau dengan mengubah sifat membran. Beberapa peranan ini, dapat mengalihkan metabolisme dan pekembangan sel yang tanggap terhadap sejumlah kecil molekul hormon. Lintasan transduksi sinyal,memperjelas sinyal hormonal dan meneruskannya ke respon  sel spesifik.
    Respon terhadap hormon, biasanya tidak begitu tergantung pada jumlah absolute hormon tersebut, akan tetapi tergantung pada konsentrasi relatifnya  dibandingkan dengan hormon lainnya. Keseimbangan hormon, dapat mengontrol pertumbuhan dan perkembangan tumbuhan dari pada peran hormon secaramandiri. Interaksi ini akan menjadi muncul dalam penyelidikan tentang fungsi hormon.

2.1. Auksin

    Istilah auksin diberikan pada sekelompok senyawa kimia yang memiliki fungsi utama mendorong pemanjangan kuncup yang sedang berkembang. Beberapa auksin dihasilkan secara alami oleh tumbuhan, misalnya IAA (indoleacetic acid), PAA (Phenylacetic acid), 4-chloroIAA (4-chloroindole acetic acid) dan IBA (indolebutyricacid) dan beberapa lainnya merupakan auksin sintetik, misalnya NAA (napthaleneacetic acid), 2,4 D (2,4 dichlorophenoxyacetic acid) dan MCPA (2-methyl-4 chlorophenoxyacetic acid).
    Istilah auksin juga digunakan untuk zat kimia yang meningkatkan perpanjangan koleoptil; walaupun demikian, auksin pada kenyataannya mempunyai fungsi ganda pada Monocotyledoneae maupun pada Dicotyledoneae. Auksin alami yang berada di dalam tumbuhan, adalah asam indol asetat (IAA=Indol Asetic Acid), akan tetapi, beberapa senyawa lainnya, termasuk beberapa sintetisnya, mempunyai aktivitas seperti auksin. Nama auksin digunakan khususnya terhadap IAA. Walaupun auksin merupakan hormon tumbuhan pertama yang ditemukan, namun masih banyak yang harus dipelajari tentang transduksi sinyal auksin dan  tentang regulasi biosintesis auksin. Kenyataan sekarang mengemukakan bahwa auksin diproduksi dari asam amino triptopan di dalam ujung tajuk tumbuhan.
    Pengaruh IAA terhadap pertumbuhan batang dan akar tanaman kacang kapri. Kecambah yang diberi perlakuan IAA menunjukkan pertambahan tinggi yang lebih besar (kanan) dari tanaman kontrol (kurva hitam). Tempat sintesis utama auksin pada tanaman yaitu di daerah meristem apikal tunas ujung. IAA yang diproduksi di tunas ujung tersebut diangkut ke bagian bawah dan berfungsi mendorong pemanjangan sel batang. IAA mendorong pemanjangan sel batang hanya pada konsentrasi tertentu yaitu 0,9 g/l. Di atas konsentrasi tersebut IAA akan menghambat pemanjangan sel batang. Pengaruh menghambat ini kemungkinan terjadi karena konsentrasi IAA yang tinggi mengakibatkan tanaman mensintesis ZPT lain yaitu etilen yang memberikan pengaruh berlawanan dengan IAA. Berbeda dengan pertumbuhan batang, pada akar, konsentrasi IAA yang rendah (<10-5 g/l) memacu pemanjangan sel-sel akar, sedangkan konsentrasi IAA yang tinggi menghambat pemanjangan sel akar. Sehingga dapat disimpulkan :
1. Pemberian ZPT yang sama tetapi dengan konsentrasi yang berbeda menimbulkan pengaruh yang berbeda pada satu sel target.
2. Pemberian ZPT dengan konsentrasi tertentu dapat memberikan pengaruh yang berbeda pada sel-sel target yang berbeda.


Gambar 1 . Transportasi Auksin Polar : Suatu Model Khemiosmosis
Sumber : Campbell dan Reece, 2002 : 809

Keterangan Gambar 1 :
1. Pada saat auksin menemui lingkungan yang asam dari dinding sel, molekulnya akan mengikat ion hydrogen (H+) sehingga menjadi bermuatan netral.
2. Sebagai  suatu molekul netral  yang  berukuran  relatif  kecil,  auksin melintas melalui membran plasma.
3. Pada  bagian  sebelah  dalam  sel,   pH  lingkungan  sebesar  7,  menyebabkan  auksin  berionisasi menjadi auksin bermuatan negatif dan ion H+. Pada waktu yang singkat ini, hormon berada di dalam sel, karena membran plasma lebih permeabel terhadap ion, daripada terhadap molekul yang netral, dengan ukuran yang sama.
4. Pemompaan  proton  yang  dikendal ikan  ATP,  mengatur  perbedaan  pH  antara  di sebelah dalam sel dengan di sebelah luar sel.
5.  Auksin  dapat  ke  luar  dari  sel,   hanya  pada  bagian  basal  sel,  tempat  protein  karier spesifik terpasang di dalam membran (protein pembawa auksin).
6.  Pemompaan  proton,  berperan  terhadap  aliran  auksin  ini,  dengan  cara  membuat suatu  potensial  membran  (tekanan)  melewati  membran,  yang  membantu transportasi anion auksin ke luar dari sel. 

Peranan Auksin

a.    Auksin Di Dalam Perpanjangan Sel
Meristem tunas apikal adalah tempat utama sintesis auksin. Pada saat auksin bergerak dar ujung tunas ke bawah ke daerah perpanjangan sel, maka hormon auksin mengstimulasi pertumbuhan sel, mungkin dengan mengikat  reseptor yang dibangun di dalam membran plasma. 
Auksin  akan  menstimulasi  pertumbuhan  hanya  pada  kisaran  konsentrasi tertentu; yaitu antara : 10-8 M sampai 10-4 M. Pada konsentrasi yang lebih tinggi; auksin akan menghambat perpanjangan sel, mungkin dengan menginduksi produksi etilen, yaitu  suatu  hormon  yang  pada   umumnya  berperan  sebagai  inhibitor pada perpanjangan sel. 
Berdasarkan  suatu  hipotesis  yang  disebut  hipotesis  pertumbuhan  asam (acid  growth  hypothesis),  pemompaan  proton  membran  plasma  memegang peranan  utama    dalam  respon  pertumbuhan sel terhadap auksin. Di daerah  perpanjangan tunas, auksin menstimulasi pemompaan proton membran plasma, dan dalam beberapa menit; auksin akan meningkatkan potensial membran (tekanan melewati membran)  dan menurunkan pH di dalam dinding sel (Gambar 2). 
Pengasaman dinding  sel  ini,  akan mengaktifkan enzim  yang disebut  ekspansin; yang memecahkan  ikatan  hidrogen  antara  mikrofibril  sellulose,  dan  melonggarkan struktur dinding sel. Ekspansin dapat melemahkan  integritas kertas saring yang dibuat dari sellulose murni.


Gambar 2 .  Perpanjangan Sel sebagai Respon terhadap Auksin : Hipotesis Pertumbuhan
Asam (Acid Growth Hypothesis).
Sumber : Campbell dan Reece, 2002 : 810

Penambahan potensial membran, akan meningkatkan pengambilan ion ke dalam sel,  yang  menyebabkan  pengambilan  air  secara  osmosis.  Pengambilan  air,  bersama dengan penambahan plastisitas dinding sel, memungkinkan sel untuk memanjang.
Auksin  juga mengubah  ekspresi gen secara  cepat, yang menyebabkan sel dalam daerah perpanjangan,  memproduksi protein baru, dalam jangka waktu beberapa menit. Beberapa  protein, merupakan  faktor  transkripsi  yang  secara  menekan  ataupun mengaktifkan ekspresi gen lainnya. 
Untuk pertumbuhan  selanjutnya,  setelah dorongan awal  ini, sel akan membuat lagi  sitoplasma dan bahan dinding sel. Auksin juga menstimulasi respon pertumbuhan selanjutnya. 

b.  Auksin dalam Pembentukan Akar Lateral dan Akar Adventif
Auksin digunakan secara komersial di dalam  perbanyakan  vegetatif  tumbuhan melalui  stek. Suatu potongan daun, maupun potongan  batang,  yang  diberi  serbuk pengakaran  yang  mengandung  auksin, seringkali  menyebabkan  terbentuknya  akar adventif dekat permukaan potongan tadi.  Auksin juga terlibat di dalam pembentukan percabangan akar. Beberapa peneliti menemukan bahwa dalam mutan Arabidopsis, yang memperlihatkan perbanyakan akar lateral yang ekstrim  ternyata mengandung auksin dengan konsentrasi  17 kali  lipat dari konsentrasi yang normal. 

c.  Auksin Sebagai Herbisida
Auksin sintetis, seperti halnya 2,4-dinitrofenol (2,4-D), digunakan secara meluas sebagai  herbisida  tumbuhan.  Pada Monocotyledoneae, misalnya  :  jagung  dan  rumput lainnya  dapat  dengan  cepat  men ginaktifkan  auksin  sintetik  ini,  tetapi  pada Dicotyledoneae  tidak  terjadi, bahkan  tanamannya  mati  karena  terlalu  banyak  dosis hormonalnya. Menyemprot beberapa tumbuhan serialia ataupun padang rumput dengan 2,4-D, akan mengeliminir gulma berdaun lebar seperti dandelion. 

d. Efek Lainnya Dari Auksin
Selain untuk menstimulasi perpanjangan sel dalam pertumbuhan primer; auksin juga  mempengaruhi  pertumbuhan  sekunder,  termasuk  pembelahan  sel  di  dalam kambium pembuluh, dan dengan mempengaruhi differensiasi xylem sekunder. 
Biji yang sedang berkembang mensintesis auksin, untuk dapat meningkatkan pertumbuhan  buah  di  dalam  tumbuhan.  Auksin  sintetik  yang  disemprotkan  ke dalam  tanaman  tomat  anggur  akan  menginduksi  perkembangan  buah  tanpa memerlukan pollinasi. Hal  ini memungkinkan untuk menghaslkan  tomat  tanpa biji, melalui  substitusi  auksin  sintetik, pada  auksin  yang  disintetis  secara normal, pada biji yang sedang berkembang. 

2.2  Sitokinin 

Sitokinin merupakan  ZPT  yang  mendorong  pembelahan  (sitokinesis). Beberapa macam  sitokinin  merupakan  sitokinin  alami  (misal  :  kinetin,  zeatin)  dan  beberapa lainnya  merupakan  sitokinin  sintetik.  Sitokinin  alami  dihasilkan  pada  jaringan  yang tumbuh aktif  terutama pada akar,  embrio dan buah. Sitokinin yang diproduksi di akar selanjutnya diangkut oleh xilem menuju sel-sel target pada batang. Ahli  biologi  tumbuhan  juga  menemukan bahwa sitokinin dapat meningkatkan pembelahan, pertumbuhan dan  perkembangan  kultur sel tanaman. Sitokinin juga menunda penuaan daun, bunga dan buah dengan cara mengontrol dengan baik proses kemunduran  yang  menyebabkan kematian sel-sel tanaman.  Penuaan pada daun melibatkan penguraian klorofil dan protein-protein, kemudian produk tersebut diangkut oleh floem ke jaringan meristem atau bagian lain dari tanaman yang membutuhkannya.
Daun kacang  jogo (Phaseolus vulgaris) yang ditaruh dalam wadah berair dapat ditunda penuaannya beberapa hari apabi la disemprot dengan sitokinin. Sitokinin juga dapat menghambat  penuaan  bunga  dan  buah.  Penyemprotan  sitokinin  pada  bunga  potong dilakukan agar bunga tersebut tetap segar.
Sebagian besar tumbuhan memiliki pola pertumbuhan yang kompleks yaitu  tunas lateralnya tumbuh bersamaan dengan tunas terminalnya. Pola pertumbuhan  ini merupakan  hasil  interaksi antara auksin dan sitokinin dengan perbandingan tertentu.
Sitokinin diproduksi dari akar dan diangkut  ke  tajuk, sedangkan auksin dihasilkan dikuncup terminal kemudian diangkut ke bagian bawah tumbuhan. Auksin cenderung menghambat aktivitas meristem lateral yang letaknya berdekatan dengan meristem apikal sehingga membatasi pembentukan tunas-tunas cabang dan fenomena ini disebut dominasi  apikal. Kuncup aksilar yang terdapat di bagian bawah tajuk (daerah yang berdekatan  dengan akar)  biasanya  akan  tumbuh  memanjang  dibandingkan  dengan tunas aksilar  yang  terdapat dekat dengan kuncup  terminal. Hal ini menunjukkan  ratio sitokinin terhadap auksin yang lebih tinggi pada bagian bawah tumbuhan. Interaksi  antagonis  antara  auksin  dan  sitokinin  juga  merupakan  salah  satu  cara tumbuhan dalam mengatur derajat pertumbuhan akar dan tunas, misalnya  jumlah akar yang  banyak  akan  menghasilkan  sitokinin  dalam  jumlah  banyak.   Peningkatan konsentrasi  sitokinin  ini  akan  menyebabkan  sistem  tunas  membentuk  cabang  dalam jumlah yang  lebih banyak. Interaksi antagonis   ini umumnya juga terjadi di antara ZPT tumbuhan lainnya.

Peranan Sitokinin

a. Pengaturan pembelahan sel dan diferensiasi sel
Sitokinin, diproduksi dalam jaringan yang sedang tumbuh aktif, khususnya pada akar,  embrio,  dan  buah.  Sitokinin  yang  diproduksi  di   dalam  akar,  akan  sampai  ke jaringan yang dituju, dengan bergerak ke bagian atas tumbuhan di dalam cairan xylem.  Bekerja  bersama-sama  dengan auksin; sitokinin menstimulas pembelahan sel dan mempengaruhi lintasan diferensiasi. Efek  sitokinin  terhadap  pertumbuhan  sel  di dalam  kultur  jaringan,  memberikan  petunjuk  tentang  bagaimana  jenis  hormon  ini berfungsi di dalam tumbuhan yang lengkap. 
Ketika  satu  potongan  jaringan  parenkhim  batang  dikulturkan  tanpa memakai sitokinin,  maka  selnya  itu  tumbuh  menjadi  besar  tetapi  tidak  membelah.  Sitokinin secara mandiri tidak mempunyai efek. Akan tetapi, apabila sitokinin itu ditambahkan bersama-sama dengan auksin, maka sel itu dapat membelah. 

b. Pengaturan Dominansi Apikal
Sitokinin,  auksin,  dan  faktor  lainnya  berinteraksi  dalam  mengontrol  dominasi apikal,  yaitu  suatu  kemampuan  dari  tunas  terminal  untuk  menekan  perkembangan tunas aksilar.  Sampai  sekarang,  hipotesis  yang  menerangkan  regulasi  hormonal  pada dominansi  apikal,  yaitu  hipotesis  penghambatan  secara  langsung,  menyatakan  bahwa auksin dan sitokinin bekerja secara antagonistis dalam mengatur pertumbuhan tunas aksilari. 
Berdasarkan atas pandangan  ini, auksin yang ditransportasikan ke bawah  tajuk dari  tunas terminal, secara langsung menghambat pertumbuhan tunas aksilari. Hal ini menyebabkan tajuk tersebut menjadi memanjang dengan mengorbankan  percabangan lateral. 
Sitokinin yang masuk dari akar ke dalam sistem tajuk tumbuhan, akan melawan kerja  auksin,  dengan  mengisyaratkan  tunas  aksilar  untuk  mulai  tumbuh.  Jadi  rasio auksin  dan  sitokinin merupakan  faktor  kritis  dalam mengontrol  penghambatan  tunas aksilar. 
Banyak  penelitian  yang  konsisten dengan hipotesis penghambatan langsung  ini.  Apabila tunas terminal yang merupakan sumber auksin utama dihilangkan, maka penghambatan  tunas aksilar  juga akan hilang dan  tanaman menjadi menyemak.
Aplikasi  auksin  pada  permukaan  potongan  kecambah  yang  terpenggal,  akan menekan kembali pertumbuhan tunas  lateral. Mutan yang terlalu banyak memproduksi sitokinin, atau tumbuhan yang diberi sitokinin, juga bertendensi untuk lebih menyemak dibanding yang normal. 

Gambar 3.   Dominansi Apikal
Sumber : Campbell dan Reece, 2002 : 811


Keterangan Gambar 3 :
a) Auksin dari tunas apikal menghambat pertumbuhan tunas aksilar. Hal ini menolong perpanjangan tunas  sumbu utama. Sitokinin,  yang ditransportasi dari akar ke atas, berlawanan  dengan  auksin,  menstimulasi  pertumbuhan  tunas  aksilar. Hal inilah yang menjawab mengapa, pada kebanyakan tumbuhan, tunas aksilar di dekat ujung tajuk kurang pertumbuhannya  dibanding  dengan  tunas  aksilar  yang dekat  dengan akar.
b)  Apabila  tunas apical dibuang, maka pada tumbuhan  yang  sama, memungkinkan tumbuhnya cabang lateral. 

c. Efek Anti Penuaan
Sitokinin,  dapat  menahan  penua an  beberapa  organ  tumbuhan, dengan menghambat pemecahan protein, dengan menstimulasi RNA  dan sintesis protein, dan dengan memobilisasi nutrien dari jaringan di sekitarnya. 
Apabila  daun  yang dibuang  dari  suatu  tumbuhan  dicelupkan  ke dalam  larutan sitokinin, maka daun  itu akan  tetap hijau  lebih  lama daripada biasanya. Sitokinin  juga memperlambat deteorisasi daun pada tumbuhan utuh. Karena efek anti penuaan ini,  para floris  melakukan  penyemprotan  sitokinin  untuk menjaga supaya bunga potong tetap segar. 

2.3 Giberelin
Pada  tahun  1926,  ilmuwan  Jepang  (Eiichi  Kurosawa)  menemukan  bahwa cendawan  Gibberella  fujikuroi  mengeluarkan  senyawa  kimia  yang  menjadi  penyebab penyakit  tersebut. Senyawa kimia tersebut dinamakan Giberelin. Belakangan ini, para peneliti  menemukan  bahwa  giberelin  dihasilkan  secara  alami    oleh  tanaman  yang memiliki  fungsi  sebagai  ZPT.  Penyakit  rebah  kecambah  ini  akan  muncul  pada  saat tanaman padi terinfeksi oleh cendawan Gibberella fujikuroi yang menghasilkan senyawa giberelin dalam jumlah berlebihan.
Pada  saat  ini  dilaporkan  terdapat  lebih  dari  110 macam  senyawa  giberelin  yang biasanya disingkat sebagai GA. Setiap GA dikenali dengan angka yang terdapat padanya, misalnya GA6  . Giberelin  dapat diperoleh  dari biji  yang  belum dewasa  (terutama  pada tumbuhan dikotil), ujung akar dan tunas , daun muda dan cendawan. Sebagian besar GA yang diproduksi oleh  tumbuhan adalah dalam bentuk    inaktif, tampaknya memerlukan prekursor untuk menjadi bentuk aktif. Pada spesies tumbuhan dijumpai kurang lebih 15 macam GA. Disamping  terdapat pada  tumbuhan ditemukan  juga pada alga,  lumut dan paku,  tetapi  tidak  pernah  dijumpai  pada  bakteri.  GA  ditransportasikan melalui  xilem dan floem, tidak seperti auksin pergerakannya bersifat tidak polar.
Salah satu zat kimia yang diperlukan dalam proses pemuliaan tanaman adalah GA3, sejak tahun 1950 orang sudah menaruh harapan besar terhadap GA terutama untuk meningkatkan produksi tanaman budidaya. GA sintesis yang biasanya tersedia secara komersial adalah GA3, GA7, GA13. Giberelin terdapat dalam berbagai organ: akar, batang, tunas, daun, tunas- tunas bunga, bintil akar, buah, dan jaringan kalus. (Heddy, 1986). 
Asetil koA, yang berperan penting pada proses respirasi berfungsi sebagai prekursor pada  sintesis  GA.  Kemampuannya  untuk meningkatkan  pertumbuhan  pada  tanaman lebih  kuat  dibandingkan  dengan  pengaruh  yang  ditimbulkan  oleh  auksin  apabila diberikan  secara  tunggal.  Namun  demikian  auksin  dalam  jumlah  yang  sangat  sedikit tetap dibutuhkan agar GA dapat memberikan efek yang maksimal. Sebagian  besar  tumbuhan  dikotil  dan  sebagian  kecil  tumbuhan  monokotil  akan tumbuh  cepat  jika  diberi  GA,  tetapi  tidak  demikian  halnya  pada  tumbuhan  konifer misalnya  pinus.  Jika  GA  diberikan  pada  tanaman  kubis  tinggi   tanamannya  bisa mencapai 2 m.Banyak tanaman yang secara genetik kerdil akan tumbuh normal setelah diberi  GA.  Efek  giberelin  tidak  hanya  mendorong  perpanjangan  batang,  tetapi  juga terlibat  dalam  proses  regulasi  perkembangan  tumbuhan  seperti  halnya  auksin.  Pada beberapa  tanaman  pemberian  GA  bisa  memacu  pembungaan  dan  mematahkan dormansi tunas-tunas serta biji.

Gambar 4. Penyakit Kecambah Abnormal pada Padi
Sumber : Campbell dan Reece, 2002 : 812

Keterangan Gambar 4 :
Tanaman padi yang tinggi  lurus  di  sebelah  kanan  diinfeksi  dengan  jamur  Gibberella. Patogen  tersebut  mengeluarkan  gibberellin,  suatu  stimulus  pertumbuhan.  Tanaman yang  tidak  diinfeksi, di  sebelah kiri menghasilkan gibberellin  dalam  jumlah  yang  lebih sedikit. 

Peranan Giberellin
a. Perpanjangan Batang
Akar  dan  daun  muda,  adalah  tempat  utama  yang  memproduksi  gibberellin. Gibberellin menstimulasi pertumbuhan pada daun maupun pada batang; tetapi efeknya dalam  pertumbuhan  akar  sedikit .  Di  dalam  batang,  gibberellin   menstimulasi perpanjangan sel dan pembelahan sel. 
Seperti  halnya  auksin,  gibberellin menyebabkan  pula  pengendoran dinding  sel, tetapi  tidak mengasamkan  dinding  sel.  Satu  hipotesis menyatakan  bahwa;  gibberellin menstimulasi  enzim  yang  mengendorkan  dinding  sel,  yang  memfasilitasi  penetrasi protein ekspansin ke dalam dinding sel.  Di  dalam  batang  yang  sedang  tumbuh,  auksin, mengasamkan  dinding  sel  dan mengaktifkan  ekspansin;  sedangkan  gibberellin  memfasilitasi  penetrasi  ekspansin  ke dalam dinding sel untuk bekerja sama dalam meningkatkan perpanjangan sel. 
  Efek gibberellin dalam meningkatkan perpanjangan batang, adalah  jelas, ketika mutan  tumbuhan  tertentu  yang  kerdil,  diberi  gibberellin.  Beberapa  kapri  yang  kerdil (termasuk  yang dipelajari oleh Mendel),  tumbuh  dengan ketinggian normal  bila diberi gibberellin.  Apabila  gibberellin  diaplikasikan  ke  tumbuhan  yang  ukurannya  normal, seringkali  tidak  memberikan  re spon.  Nampaknya,  tumbuhan  tersebut  sudah memproduksi dosis hormon yang optimal. 
Suatu contoh yang paling menonjol, dari perpanjangan batang yang telah diinduksi oleh gibberellin; adalah  terjadinya  pemanjangan  yang  tiba-tiba  yang  disebut  bolting,  yaitu pertumbuhan tangkai bunga yang cepat. 




Gambar 5. Pemberian Hormon Tumbuh pada Perkecambahan Kacang Kapri yang Kerdil
(Sumber : Campbell dan Reece, 2002 : 812 )


Keterangan Gambar 5 :
Bandingkanlah  perkecambahan  kacang  kapri  yang  tidak  diberi  perlakuan  di sebelah  kiri,  dengan  perkecambahan  kapri  kerdil  yang  diberi  perlakuan  di  sebelah kanan, yang diberi 5 g gibberellin 5 hari sebelumnya. 

Fase  vegetatif  beberapa  tumbuhan,  seperti  pada  kubis,  tumbuh  dalam  bentuk roset; yaitu, tumbuhnya pendek dekat dengan tanah karena ruas-ruas (internodus) yang pendek. Pada  saat  tumbuhan  berubah ke fase reproduktif, maka terjadi ledakan gibberellin  yang menginduksi  internodus menjadi memanjang dengan cepat, sehingga kuncup bunga menjadi tinggi dan berkembang pada ujung batang. 

b. Pertumbuhan Buah
Pada  kebanyakan  tumbuhan,  auksin  maupun  gibberellin  hendaknya  selalu tersedia untuk mengatur pertumbuhan buah. Aplikasi gibberellin secara komersial yaitu dengan menyemprot anggur  ‘Thompson’ menjadi  tanpa  biji  (Gambar 6)  adalah  sangat penting. 
Hormon, menjadikan  buah  anggur  secara  individu  tumbuh  lebih besar,  sesuai dengan ukuran yang diinginkan konsumen; dan juga menjadikan ruas (internodus) lebih panjang, sehingga lebih banyak tempat bagi tiap-tiap buah anggur untuk berkembang. 
Penambahan ruang tumbuh ini, akan meningkatkan sirkulasi udara antara buah anggur yang  satu  dengan  yang  lainnya;  juga  menjadikan  buah  anggur  lebih  keras,  sehingga tahan terhadap jamur serta mikroorganisme lainnya yang akan menginfeksi buah.


Gambar 6.  Efek Pemberian Gibberellin pada Anggur Tanpa Biji
Sumber : Campbell dan Reece, 2002 : 813

Keterangan Gambar 6:
Rangkaian tandan anggur di sebelah  kiri  adalah  kontrol,  yang  tidak  diberi  perlakuan.
Rangkaian  tandan  di  sebelah  kanan  tumbuh  dari  tanaman  anggur   yang  disemprot dengan gibberellin selama perkembangan buahnya. 

c. Perkecambahan
Embrio biji kaya dengan sumber  gibberellin. Setelah air diimbibisi, terjadi pelepasan  gibberellin dari  embrio,  yang  mengisyaratkan biji untuk  memecahkan dormansi dan segera berkecambah. Pada beberapa biji yang memerlukan kondisi lingkungan khusus untuk berkecambah, misal keterbukaan terhadap cahaya atau  temperatur  yang dingin, maka pemberian  gibberellin akan memecahkan dormansi. Gibberellin, membantu pertumbuhan  pada  perkecambahan  serialia,  dengan  menstimulasi  sintesis  enzim pencerna  seperti amilase,  yang memobilisasi  cadangan makanan.  Diduga giberelin yang  terdapat di dalam biji merupakan  penghubung  antara isyarat lingkungan dan proses  metabolik  yang  menyebabkan  pertumbuhan  embrio.  Sebagai  contoh,  air  yang tersedia  dalam  jumlah  cukup  akan menyebabkan  embrio  pada  biji  rumput-rumputan mengeluarkan  giberelin  yang  mendorong  perkecambahan  dengan  memanfaatkan cadangan  makanan  yang  terdapat  di  dalam  biji.  Pada  beberapa  tanaman,  giberelin menunjukkan  interaksi  antagonis  dengan  ZPT  lainnya misalnya dengan  asam  absisat yang menyebabkan dormansi biji.
 
2.4  Asam absisat (ABA) 
Musim  dingin  atau  masa  kering merupakan  waktu  dimana  tanaman  beradaptasi menjadi  dorman  (penundaan  pertumbuhan).  Pada  saat  itu, ABA  yang  dihasilkan  oleh kuncup menghambat pembelahan sel pada jaringan meristem apikal dan pada cambium pembuluh  sehingga  menunda  pertumbuhan  primer  maupun  sekunder.  ABA  juga memberi sinyal pada kuncup untuk membentuk sisik yang akan melindungi kuncup dari kondisi  lingkungan  yang  tidak menguntungkan. Dinamai  dengan  asam  absisat  karena diketahui bahwa ZPT  ini menyebabkan absisi/rontoknya daun  tumbuhan pada musim gugur. Nama tersebut  telah popular walaupun para peneliti  tidak pernah membuktikan kalau ABA terlibat dalam gugurnya daun.
Pada kehidupan suatu tumbuhan, merupakan hal yang menguntungkan untuk menunda/menghentikan  pertumbuhan  sementara.  Dormansi  biji  sangat  penting terutama bagi  tumbuhan setahun di daerah gurun atau daerah semiarid, karena proses perkecambahan  dengan  suplai air terbatas akan mengakibatkan kematian. Sejumlah faktor  lingkungan diketahui mempengaruhi dormansi biji,  tetapi pada banyak  tanaman ABA  tampaknya  bertindak  sebagai   penghambat  utama  perkecambahan.  Biji-biji tanaman  setahun  tetap dorman di  dalam  tanah  sampai air  hujan mencuci ABA keluar dari biji.

Peranan Asam Absisat (ABA)
a. Dormansi Biji
Dormansi  biji,  mempunyai  nilai  kelangsungan  hidup yang besar; karena dia menjamin bahwa biji akan berkecambah; hanya apabila ada kondisi yang optimal dari : cahaya, temperatur, dan kelembaban.  Apa  yang  mencegah  biji  yang  disebarkan  pada  mus im  gugur  untuk  segera berkecambah  lalu  mati  hanya  karena  adanya  musim  dingin.  Mekanisme  apa  yang menjamin bahwa biji tertentu berkecambah pada musim semi?. Apa yang mencegah biji berkecambah di dalam keadaan gelap, ataupun kelembaban yang tinggi di dalam biji. 
Jawabannya adalah ABA. Level ABA akan bertambah 100 kali  lipat selama pematangan biji. Level ABA yang tinggi dalam  pematangan  biji  ini,  akan  menghambat perkecambahan, dan menginduksi produksi protein khusus, yang membantu biji untuk menahan dehidrasi yang ekstrim yang mengiringi pematangan. 
Banyak tipe biji yang dorman, akan berkecambah ketika ABA pada biji tersebut  dihilangkan,  atau  dinonaktifkan,  dengan  beberapa  cara.  Biji  beberapa tumbuhan gurun, akan pecah dormansinya, apabila  terjadi hujan  yang  lebat  yang akan mencuci ABA dari biji.  Biji  lainnya  membutuhkan  cahaya  ataupun  membutuhkan  keterbukaan  yang lebih lama terhadap temperatur dingin untuk memicu tidak aktifnya ABA. Sering kali rasio ABA-gibberellin menentukan; apakah biji itu akan tetap dorman atau akan berkecambah.  Penambahan  ABA  ke  dalam  biji  yang  sedianya  berk ecambah,  akan kembali menjadikan dalam kondisi dorman.  Mutan  jagung,  yang  mempunyai  biji  yang  sudah  berkecambah  saat  masih  pada tongkolnya,  tidak mempunyai  faktor  transkripsi  fungsional  yang  diperlukan  oleh ABA untuk menginduksi ekspresi gen tertentu (Gambar 7). 


Gambar 7.  Perkecambahan Sebelum Waktunya pada Biji Jagung Mutan
Keterangan Gambar 7:
Asam  absisat menginduksi  dormansi  pada  biji.  Ketika mekanisme  kerjanya  terblokir, dalam hal ini, dengan mutasi yang menyebabkan faktor transkripsi yang mengatur asam absisat, menyebabkan perkecambahan sebelum waktunya.

b. Cekaman Kekeringan
ABA,  adalah  sinyal  internal  utama,  yang  memungkinkan  tumbuhan,  untuk menahan kekeringan. Apabila suatu  tumbuhan memulai  layu, maka ABA berakumulasi di  dalam  daun, dan menyebabkan  stomata menutup  dengan cepat, untuk mengurangi transpirasi, dan mencegah kehilangan air berikutnya.
ABA, melalui pengaruhnya terhadap mesenjer ke-2, yaitu terhadap Ca (kalsium), menyebabkan peningkatan pembukaan saluran K (kalium) sebelah luar secara  langsung di  dalam membran  plasma  sel  penutup. Hal  ini mendorong kehilangan  kalium dalam bentuk massif  darinya,  yang  jika  disertai  dengan  kehilangan  air  secara  osmotis  akan mendorong pengurangan turgor sel penutup yang mengecilkan celah stomata. 
Dalam  beberapa  kasus,  kekurangan  air  terlebih dahulu  akan mencekam  sistem perakaran sebelum mencekam sistem tajuk. ABA akan ditransportasi dari akar ke daun, yang  berfungsi  sebagai  sistem  peringatan  dini  (early warning  system). Mutan  ‘Wilty’ yang  mengalami  kelayuan,  yang  biasanya  mudah  untuk  layu,  dalam  beberapa  kasus disebabkan karena kekurangan produksi ABAnya.

2.5  ETHYLENE
  Buah-buahan mempunyai arti penting sebagi sumber vitamine, mineral, dan zat-zat  lain  dalam menunjang  kecukupan  gizi.  Buah-buahan  dapat  kita makan  baik  pada keadaan mentah maupun  setelah mencapai kematangannya. Sebagian besar buah  yang dimakan  adalah  buah  yang  telah  mencapai  tingkat  kematangannya.  Untuk meningkatkan  hasil  buah  yang masak  baik  secara  kualias maupun  kuantitasnya dapat diusahakan  dengan  substansi  tertentu  antara  lain  dengan  zat  pengatur  pertumbuhan Ethylene.  Dengan  mengetahui  peranan  ethylene  dalam  pematangan  buah  kita  dapat menentukan penggunaannya dalam  industri pematangan  buah atau  bahkan mencegah produksi dan aktifitas ethyelen dalam usaha penyimpanan buah-buahan.
  Ethylene mula-mula  diketahui  dalam  buah  yang matang  oleh  para pengangkut buah  tropica  selama pengapalan dari Yamaika ke Eropa pada  tahun  1934, pada pisang masak lanjut mengeluarkan gas yang juga dapat memacu pematangan buah yang belum masak. Sejak saat  itu Ethylene  (C2 H2) dipergunakan sebagai sarana pematangan buah dalam industri.
  Ethylene  adalah  suatu  gas  yang  dapat  digolongkan  sebagai  zat   pengatur pertumbuhan  (phytohormon)  yang  aktif  dalam  pematangan.  Dapat   disebut  sebagai hormon  karena  telah  memenuhi  persyaratan  sebagai  hormon,  yaitu  dihasilkan  oleh tanaman,  besifat  mobil  dalam  jaringan  tanaman  dan  merupakan  senyawa  organik. Seperti  hormon  lainnya  ethylene  berpengaruh  pula  dalam  proses  pertumbuhan  dan perkembangan tanaman antara lain mematahkan dormansi umbi kentang, menginduksi pelepasan  daun  atau  leaf  abscission,  menginduksi  pembungaan  nenas. Denny  dan Miller (1935) menemukan bahwa ethylene dalam buah, bunga, biji, daun dan akar.
  Proses pematangan buah sering dihubungkan dengan rangkaian perubahan yang dapat dilihat meliputi warna, aroma, konsistensi dan flavour (rasa dan bau). Perpaduan sifat-sifat tersebut akan menyokong kemungkinan buah-buahan enak dimakan. Proses pematangan buah didahului dengan klimakterik (pada buah klimakterik). Klimakterik  dapat  didefinisikan  sebagai  suatu  periode mendadak  yang unik  bagi  buah dimana  selama  proses  terjadi  serangkaian  perubahan  biologis  yang  diawali  dengan proses sintesis ethylene. Meningkatnya respirasi dipengaruhi oleh  jumlah ethylene yang dihasilkan,  meningkatnya  sintesis  protein  dan  RNA.  Proses  kl imakterik  pada  Apel diperkirakan karena adanya perubahan permeabilitas selnya yang menyebabkan enzym dan  susbrat  yang  dalam  keadaan  normal  terpisah,  akan  bergabung  dan  bereaksi  satu dengan lainnya. 
  Perubahan  warna  dapat  terjadi  baik  oleh  proses-proses  perombakan  maupun proses sintetik, atau keduanya. Pada  jeruk manis perubahan warna ni disebabkan oleh karena perombakan khlorofil dan pembentukan zat warna karotenoid. Sedangkan pada pisang  warna  kuning  terjadi  karena  hilangnya  khlorofil  tanpa  adanya  atau  sedikitpembentukan  zat  karotenoid.  Sisntesis  likopen  dan  perombakan  khlorofil merupakan ciri perubahan warna pada buah tomat.
  Menjadi lunaknya buah disebabkan oleh perombakan propektin yang tidak  larut menjadi pektin yang larut, atau hidrolisis zat pati (seperti buah waluh) atau lemak (pada adpokat).  Perubahan  komponen-komponen  buah  ini  diatur  oleh  enzym-enzym  antara lain enzym hidroltik, poligalakturokinase, metil asetate, selullose.
  Flavour  adalah  suatu  yang  halus  dan  rumit  yang  ditangkap  indera  yang merupakan kombinasi rasa (manis, asam, sepet), bau (zat-zat atsiri) dan terasanya pada lidah. Pematangan biasanya meningkatkan  jumlah gula-gula  sederhana  yang memberi rasa  manis,  penurunan  asam-asam  organik  dan  senyawa-senyawa  fenolik  yang mengurangi  rasa  sepet  dan masam,  dan  kenaikan  zat-zat  atsiri  yang memberi  flavour khas pada buah.
  Proses  pematangan  juga  diatur  oleh  hormon  antara  lain  AUXIN,  sithokinine, gibberellin,  asam-asam  absisat  dan  ethylene.Auxin  berperanan  dalam  pembentukan ethylene,  tetapi  auxin  juga  menghambat  pematangan  buah.  Sithokinine  dapat menghilangkan perombakan protein, gibberellin menghambat perombakan khlorofil dan menunda penimbunan karotenoid-karotenoid. Asam absisat menginduksi enzym penyusun/pembentuk karotenoid, dan ethylene dapat mempercepat pematangan. 
Peranan Ethylene
a. Ethylene sebagai hormon pematangan
  Ethylene sebagi hormon akan mempercepat  terjadinya klimakterik. Biale  (1960) telah  membuktikan  bahwa  pada  buah  adpokat  yang  disimpan  di  udara  biasa  akan matang setelah 11 hari, tetapi apabila disimpan dalam udara dengan kandungan ethylene 10 ppm selama 24 jam buah adpokat tersebut akan  matang dalam waktu 6 hari. Aplikasi  C2H2  (Ethylene)  pada  buah-buahan  klimakterik,  makin  besar konsentrasi  C2H2  sampai  tingkat  kritis  makin  cepat  stimulasi  respirasinya.  Ethylene tersebut  bekerja  paling  efektif  pada  waktu  tahap  klimakerik,  sedangkan  penggunaan C2H2  pada tahap post klimakerik tidak merubah laju respirasi.
  Pada buah-buahan non klimakterik respon terhadap penambahan ethylene baik pada  buah  pra  panen maupun  pasca panen,  karena  produksi  ethylene pada buah non klimakterik hanya sedikit.
Dari  penelitian  Burg  dan  Burg  (1962),  juga  dapat  diketahui  bahwa  ethylene merangsang  pemasakan  klimakerik.  Sedangkan  menurut    Winarno  (1979)  dikatakan bahwa  uah-buahan  non klimakterik  akan mengalami klimakterik  setelah ditambahkan ethylene  dalam  jumlah  yang  besar.  Sebagai  contoh  buah  non  kl imakterik  untuk percobaannya adalah  jeruk. Di  samping  itu pada buah-buahan non klimakterik apabila ditambahkan ethylene beberapa kali akan terjadi klimakterik yang berulang-ulang.
Penelitian  Mattoo  dan  Modi  (19 69)  telah  menunjukkan  bahwa  C2H2 meningkatkan kegiatan enzym-enzym katalase, peroksidase, dan amylase dalam  irisan-irisan  mangga  sebelum  puncak  kemasakannya.  Serta  selama  pema cuan  juga diketemukan zat-zat  serupa protein  yang menghambat pemasakan, dalam  irisan-irisan itu dapat  hilang  dalam  waktu  45  jam.  Perlakuan  dengan  C2H2 mengakibatkan  irisan-irisan menjadi  lunak dan  tejadi  perubahan warna  yang menarik  dari  putih  ke  kuning, yang memberi petunjuk timbulnya gejala-gejala kematangan yang khas.

b.  Ethylene Pada Absisi Daun
  Kehilangan  daun  pada  setiap  musim  gugur  merupakan  suatu  adaptasi  untuk menjaga  agar  tumbuhan  yang  berganti daun,  selama musim dingin  tetap  hidup ketika akar tidak bisa mengabsorpsi air dari tanah yang membeku. 
Sebelum daun  itu mengalami absisi, beberapa elemen essensial diselamatkan dari daun yang mati, dan disimpan di dalam sel parenkhim batang. Nutrisi ini dipakai lagi untuk pertumbuhan daun pada musim semi berikutnya. 
Warna daun pada musim gugur, merupakan suatu kombinasi dari warna pigmen merah  yang  baru  dibuat  selama  musim  gugur,  dan  warna  karotenoid  yang berwarna  kuning  dan  orange,  yang  sudah  ada  di  dalam  daun,  tetapi  kelihatannya berubah karena terurainya klorofil yang berwarna hijau tua pada musim gugur.  Ketika  daun  pada  musim  gugur  rontok,  maka  titik  tempat  terlepasnya  daun merupakan  suatu  lapisan  absisi  yang  berlokasi  dekat  dengan pangkal  tangkai  daun. Sel parenkhim berukuran kecil dari lapisan ini mempunyai dinding sel yang sangat tipis, dan tidak mengandung sel serat di sekeliling jaringan  pembuluhnya. Lapisan absisi selanjutnya melemah, ketika enzimnya menghidrolisis polisakarida  di  dalam dinding sel. Akhirnya dengan bantuan angin, terjadi suatu pemisahan di dalam lapisan absisi. Sebelum  daun  itu  jatuh,  selapisan  gabus  membentuk  suatu  berkas  pelindung  di samping  lapisan  absisi  dalam  ranting  tersebut  untuk  mencegah  patogen  yang  akan menyerbu bagian tumbuhan yang ditinggalkannya (Gambar 8).




Gambar 8.  Absisi pada Daun Maple
(Sumber : Campbell dan Reece, 2002 : 816)

Keterangan Gambar 8:
  Absisi  diatur  oleh  perubahan  keseimbangan  etilen  dan  auksin.  Lapisan  absisi dapat  dilihat  disini  sebagai  suatu  lapisan  vertikal  pada  pangkal  tangkai  daun.  Setelah daunnya gugur, suatu  lapisan pelindung dari gabus, menjadi bekas tempelan daun yang membantu mencegah serbuan patogen. 

  Suatu perubahan keseimbangan etilen dan auksin, mengontrol absisi. Daun yang tua, menghasilkan  semakin  sedikit  auksin;  yang menyebabkan  sel  lapisan absisi  lebih sensitif terhadap etilen. Pada saat pengaruh etilen terhadap lapisan absisi kuat, maka sel itu memproduksi enzim, yang mencerna sellulose dan komponen dinding sel lainnya. 

b. Ethylene dan Permeablitas Membran
Ethylene adalah senyawa yang  larut di dalam  lemak sedangkan memban dari sel terdiri  dari  senyawa  lemak.  Oleh  karena  itu  ethylene  dapat  larut  dan  menembus  ke dalam  membran  mitochondria.  Apabila  mitochondria  pada  fase  pra  klimakterik diekraksi kemdian ditambah ethylene, ternyata terjadi pengembangan volume yang akan meningkatkan  permeablitas  sel  sehingga  bahan-bahan  dari  luar  mitochondria  akan dapat  masuk.  Dengan  perubahan-perubahan  permeabilitas  sel  akan  memungkinkan interaksi yang lebih besar antara substrat buah dengan enzym-enzym pematangan.

c.Ethylene dan Aktiitas ATP-ase
Ethylene  mempunai  peranan  dalam  merangsang  aktiitas  ATP-ase  dalam penyediaan  energi  yang dibutuhkan  dalam metabolisme. ATP-ase adalah  suatu  enzym yang  diperlukan  dalam  pembuatan  enegi  dari  ATP  yang  ada  dalam  buah.  Adapun reaksinya adalah sebagai berikut:
ATP -----------------------à ADP   + P --------------------------à Energi ATP-ase
d.  Ethylene sebagai “Genetic Derepression”
Pada  reaksi  biolgis  ada  dua  faktor  yang  mengontrol  jalannya  reaksi.  Yang pertama  adalah  “Gene  repression”  yang  menghambat  jalannya  reaksi  yang  berantai untuk  dapat  berlangsung  terus.  Yang  kedua  adalah  “Gene  Derepression”  yaitu  faktor yang dapat menghilangkan hambatan tersebut sehingga reaksi dapat berlangsun.
Selain  itu  ethylene  mempengaruhi  proses-proses  yang  tejadi  dalam  tanaman termasuk  dalam  buah,  melalui  perubahan  pada  RNA  dan  hasilya  adalah  perubahan dalam sintesis protein yang diatur RNA sehingga pola-pola enzym-enzymnya mengalami perubahan pula.

2.5.1 Interaksi Ethylene dengan Auxin
Di  dalam  tanaman  ethylene  mengadakan  interaksi  dengan  hormon  auxin. Apabila konsentrasi auxin meningkat maka produksi ethylen pun akan meningkat pula. Peranan  auxin  dalam  pematangan  buah  hanya membantu  merangsang  pembentukan ethylene,  tetapi  apabila  konsentrasinya  ethylene  cukup  tinggi  dapat  mengakibatkan terhambatnya sintesis dan aktifitas auxin.

2.5.2  Produksi dan Aktifitas Ethylene
Pembentukan ethylene dalam  jaringan-jaringan tanaman dapat dirangsang oleh adanya  kerusakan-kerusakan mekanis  dan  infeksi.  Oleh  karena  itu  adanya  kerusakan mekanis  pada  buah-buahan yang baik di pohon maupun setelah dipanen akan dapat mempercepat pematangannya.
Penggunaan  sinar-sinar  radioaktif  dapat  merangsang  produksi  ethylene.  Pada buah  Peach  yang  disinari  dengan  sinar  gama  600  krad  ternyata  dapat mempercepat pembentukan  ethylene  apabila  dibeika  pada  saat  pra  klimakterik,  tetapi  penggunaan sinar radioaktif tersebut pada saat klimakterik dapat menghambat produksi ethylene.
Produksi  ethylene  juga  dipengaruhi  oleh  faktor  suhu  dan  oksigen.  Suhu  renah maupun  suhu  tinggi dapat menekan produk  si  ethylene. Pada kadar  oksigen di  bawah sekitar 2 % tidak terbentuk ethylene, karena oksigen sangat diperlukan. Oleh karena itu suhu  rendah  dan  oksigen  renah  dipergunakan  dalam  pr aktek  penyimpanan  buah-buahan, karena akan dapat memperpanjang daya simpan dari buah-buahan tersebut.
Aktifitas  ethylene  dalam  pematangan  buah  akan  menurun  dengan  turunnya suhu, misalnya pada Apel yang disimpan pada suhu 30 C, penggunaan ethylene dengan konsentrasi tinggi tidak memberikan pengaruh yang  jelas baik pada proses pematangan maupun pernafasan. Pada suhu optimal untuk produksi dan aktifitas ethylene pada bah tomat dan apel adalah 320 C, untuk buah-buahan yang lain suhunya lebih rendah.

2.6 TRIAKONTANOL
Triakontanol  adalah  alkohol  rantai  panjang  yang  memeiliki  30  atom  karbon dalam molekulnya.   Triakontanol merupakan alkohol  lemak,  juga  lebih dikenal dengan Melissyl alkohol atau Myricyl alkohol. 
 

Kelompok  –OH,  ciri  dari  alkohol,  berada  pada  akhir  rantai.  Rumus  kimianya C₃₀H₆₂O  dan  berat  molekulnya  adalah  438,42.  Dalam  suhu  kamar,  triakontanol berbentuk  solid  (padat) dan    titik  cairnya pada  suhu 85-90oC. Triakontanol    tidak  larut dalam air,  larut dalam pelarut organik yang berbeda, polaric dan non-polaric di alam triakontanol dapat ditemukan dalam kutikula dari berbgai jenis tanaman. 
Dalam bentuk ester, dimana triakontanol bereaksi dengan asam dan bahan padat duitemukan dalam lilin. 1-triakontanol yang ditemukan sekitar 1930-an, sampai hari ini juga  diproduksi  secara  sintetis,  menghasilkan  begitu  banyak  produk  murni  daripada ketika diekstrak dari bahan tanaman.  
Triakontanaol  merupakan  pemacu  pertumbuhan  (groeth  stimulant)  pada beberapa  jenis  tanaman,  sebagian  besar  ditemukan  pada  ros  yang  pemberiannya  meningkatkan jumlah basal breaks.

Peningkatan pertumbuhan Akibat pemberian Triakontanol
Pada tahun 1970an,  pengamtan  pertama  terhadap  triakontanol  y ang meningkatkan pertumbuhan tanaman  telah dipublikasikan di Amerika Seriikat. Setelah ini  ,  penelitian  hampir  seluruhkan  dilakukan  dis  eluruh  belahan  dunia,  dengan  hasil yang sangat penting pada beberapa tahun kemudian datang dari India, Cina dan Jepang. Dan beberapa tanaman komersial yang menggunakan triakontanol di area I ni, terutama kapas dan padi. 
Hasil terbaik sangat  mengesankan  dan  memberikan  lebih  dari   100% peningkatan  dalam  hasil. Masalahnya,  bagaimanapun,  bahwa  triakontanol  tidak  larut dalam air  dan  akhirnya membuatnya  sangat  sulit  untuk digunakan dalam konsentrasi rendah  dimana  diperlukan.  Juga,  dalam  triakontanol  unrefined,  sangat  berhubungan dengan  substansi  yang  berperan  sebagai  inhibitor  dan    mengga nggu  pengaruh positifnya. 
Triakontanol  memberikan  hasil  yang  baik  sebagai    bating  agent,  ketika ditambahkan ke dalam tanah dan diberikan hampir pada seluruh bagian sebagai “pupuk daun”.  Untuk  jangka  panjang  tidak  diketahui  menyebabkan  perbaikan  pertumbuhan tanaman akibat pemberian  triakontanol  ini. Penelitian akhir-akhir  ini menduga bahwa triakontanol  secara  langsung mengaktifkan  gen  yang mengontrol  fotosintesis. Gen  ini mengaktifkan enzim yang mengontrol proses kimia dari fotosinrytesis. 
Cara  triakontanol    bekerja  berbeda  secar  intimewa  dari  rantai  pendek  alkohol. Sehingga traikontanol memberikan penongkatan terbesar dalam produktifitas juga pada tanaman  C4  seperti  jagung.  Dengan  rantai  pendek  alkohol  ,  fotosintesis  meningkat sebagai  efek    khususnya  pada  tanaman  C3  dan  melalui  perlindungan  enzim  Rubisco dengan ckarbon yang cukup. Alkohol rantai pendek harus digunakan dalam jumlah yang cukup besar untuk memperoleh pengaruh .  Ketika diaplikasikan bersama, triakontanol dan etanol berpengaruh pada proses fotosintesis dalam cara yang berbeda. Pengaruh tidak   meniadakan  tetapai mendukung satu sama lainnya. 
 
Hasil Penelitian Penggunaan Triakontanol
Triakontanol yang merupakan sebuah alkohol primer dengan 30 karbon, adalah salah  satu  Zat  Pengatur  Tumbuh  (ZPT)  yang  telah  terbukti  mampu  meningkatkan produksi  beberapa  jenis  tanaman  budidaya  secara  efektif.  Triakontanol  bekerja  sama dengan hormon endogen tanaman dan faktor lingkungan untuk meningkatkan produksi tanaman.  Triakontanol  (TRIA)  adalah  alkohol  rantai  panjang  jenuh  yang  diketahui dapat  meningkatakan  aktivitas  pertumbuhan  ketikadisuplai secara eksogenus pada sejumlah tanaman. Pemberian  triakontanol pada  tanaman kacang  hijau  pada beberapa konsentrasi menunjukkan bahwa  triakontanol berpengaruh  secara  signifikan  terhadap peningkatan produksi  kacang  hijau.  Konsentrasi  yang  paling  efektif  adalah  0,03 ppm (P3). Pada konsentrasi  ini  triakontanol  mampu  meningkatkan  jumlah  bunga,  jumlah  polong, panjang polong,  rata-rata  jumlah biji per  polong  dan berat  biji  secara  signifikan,  yaitu hampir dua kali  lipat dibandingkan kontrol. Data pendukung  juga menunjukkan bahwa pada pada konsentrasi tersebut triakontanol mampu meningkatkan panjang batang dan berat kering tajuk. 
  Penelitian di Cina (2002)  menunjukkan bahwa pemberian triakontanol pada tanamana padi  (rice  seedlings) melalui aplikasi pada daun  ( foliar application)   dapat meningkatkan  bobot  kering,  protein  dan  kandungan  klorofil  pada  padi.  Leaf  Nett Fotosintesis meningkat secara cepat dan secara terus menerus. Pengaruh  traikontanol  pada  pertumbuhan  dan  hasil  dilakukan  pada  sejumlah tanaman hortikultura   seperti tomat,  lada  (sweet pepper), sugar beet, kapas, tembakau dan kentang. Penyemprotan sebanyak tiga kali melalui daun yang  diaplikasikan  pada seluruh tanaman, dimulai dari tahap awal pertumbuhan tanaman. Pada tomat dan sweet pepper,  tinggi  tanaman  dan  jumlah  da un  lebih  tinggi  pada  tanaman  yang  diberi perlakuna  dibandingkan  kontrol.  Rata-rata  jkumlah  hasil  per  perlakuan  lebih  tinggi secara signifikan dibandingkan kontrol. Pada tanaman sugar beet yang diberi perlakuan triakontanol,  jumlah  daun  dan  rat-rata  bobot  akar  secara  signi fikan  lebih  besar dibandingkan  kontrol.  Pada  tembakau  rata-rata  jumlah  daun  per  tanaman  11%  lebih banyak  dibandingkan  kontrol,  dimana rata-rata bobot keringnya  24% lebih besar dibandingkan tanaman control .Demikian pula halnya pada tanaman kapas dan kentang. 



























BAB III
PENUTUP
Seperti  yang  telah  dibahas  dimuka,  ZPT  sintetik  sangat  banyak  digunakan  pada pertanian  modern.  Tanpa  ZPT  si ntetik  untuk  mengendalikan  gulma,  atau  untuk mengendalikan  pertumbuhan  dan  pengawetan  buah-buahan,  maka  produksi  bahan makanan  akan  berkurang  sehingga  harganya  akan  menjadi  mahal.Disamping  itu, muncul  keprihatinan  bahwa  penggunaan  senyawa  sintetik  secara  berlebihan  pada produksi pangan akan menimbulkan masalah lingkungan dan kesehatan serius. Sebagai contoh  dioksin,  senyawa  kimia  sampingan  dari  sintesa  2,  4-D  yang  digunakan  sebagai herbisida  selektif  untuk  membasmi  gulma  berdaun  lebar  dari  tumbuhan  dikotil.
Walaupun 2, 4-D tidak beracun terhadap mamalia, namun dioksin dapat menyebabkan cacat lahir, penyakit hati, dan leukimia pada hewan percobaan.Sekarang  ini,  bagaimanapun  juga, produksi bahan pangan  secara  organik menjadi relatif lebih mahal. Persoalan penggunaan senyawa kimia sintetik pada bidang pertanian melibatkan  aspek  ekonomi  dan  etika.  Haruskah  kita  teruskan  memproduksi  pangan yang murah dan berlimpah dengan zat kimia sintetik dan masa bodoh terhadap masalah yang  mungkin  muncul,  atau  haruskah  kita  melakukan  budidaya  tanaman  tanpa  zat kimia sintetik berbahaya tetapi dengan menerima kenyataan bahwa harga bahan pangan akan lebih mahal.

















DAFTAR PUSTAKA

Anna Kasvaa. 2007. The growth enhancing effects of triacontanol.htttp://www.carbonkick.fi. Diakses tanggal 19 februari 2011.
Campbell, N. A. and J. B. Reece. 2002. Biology. Sixth Edition, Pearson Education.  Inc. San Francisco. 802-831.
George, L.W. 1995.  Teknik Kultur In Vitro dalam Holtikultura. Penebar Swadaya. Jakarta
Gunawan, L.W. 2002.  Budidaya Anggrek. Penebar Swadaya. Jakarta Peranan  Zat  Pengatur  Tumbuh  (ZPT)  Dalam  Pertumbuhan  dan  Perkembangan Tumbuhan. http://www.iel.ipb.ac.id. Diakses tanggal 18 Februari 2011
Yusnida Bey, Wan Syafii, dan Sutrisna. 2006. Pengaruh Pemberian Giberelin (GA3) dan Air Kelapa terhadap Perkecanbahan Bahan Biji Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabillis BL) Secara In Vitro. Jurnal Biogenesis Vol. 2(2): 41-46, 2006. Program Studi Pendidikan Biologi FKIPUniversitas Riau. http://biologi-fkip.unri.ac.id/karya_tulis bey PENGARUH PEMBERIAN GIBERELIN 41-46.pdf. Diakses 20 Februari 2011.