Pages

Jumat, 04 Maret 2011

Arah Pembelajaran Biologi Era Globalisasi

BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang Masalah

        Masyarakat tidak bersifat statis, seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi masyarakat selalu mengalami perubahan, bergerak menuju perkembangan yang kompleks. Perubahan bukan terjadi pada sistem nilai saja tetapi pada pola kehidupan, struktur social, Kebutuhan dan tuntutan masyarakat.

        Mengamati perubahan yang berlangsung di masyarakat maka proses pembelajaran dalam pola pendidikan di Indonesia abad ke 21 pendidikan dilihat mulai dari input, proses, output dan outcome sistem pendidikan. Mekanisme seleksi siswa sekarang ini banyak mengandung unsur KKN atau praktek politik dagang kambing, siapa yang berani harga tinggi akan mendapat kesempatan untuk mengenyam sekolah bermutu atau favorit, sehingga ada jaminan diakses pasar kerja lebih cepat terutama untuk perguruan tinggi.

        Ini salah satu masalah dalam dunia pendidikan sekarang ini, dan merupakan tuntutan era globalisasi, mendorong trend berkembangnya pola pendidikan di Indonesia ke arah pendidikan yang materialistik. Kondisi ini telah memicu pergeseran paradigma pendidikan di segala aspek terutama yang terkait dengan refleksi pendidikan, yang pada hakekatnya harus mengutamakan kebutuhan peserta didik.
        Biologi sebagai salah satu ilmu dasar selalu mengalami perkembangan, apalagi pada abad 21 sudah dapat diduga bahwa biologi akan berkembang pesat. Apabila pendidikan memang bertujuan untuk mencerdaskan anak bangsa dan mengantarkan mereka untuk dapat memahami serta mengelolanya dengan baik, berarti konsep yang diberikan harus seirama dengan kemajuan Ilmu dan Teknologi pada era Globalisasi ini. Salah satu dari kecendrungan perubahan dunia yang dikemukakan oleh Nisbitt dan aburdene (1990) adalah kemungkinan “jaman biologi menggantikan jaman fisika”. Perubahan kedudukan Biologi tersebut jelas merupakan tantangan bagi para Biologiwan dan pendidik Biologi. Untuk menghadapi tantangan tersebut perlu dipersiapkan generasi muda yang tangguh. Dengan kata lain kita perlu mempersiapkan sumber daya manusia yang berkualitas.
        Mempersiapkan SDM yang berkualitas berarti memberdayakan manusia seutuhnya, yaitu segi fisik dan cara berfikirnya. Mereka seyogyanya kritis dan memiliki kesadaran akan pentingnya melestarikan fungsi lingkungan untuk keperluan generasi mereka dan generasi yang akan datang dalam mengelola sumber daya alam Hayati.
 
1.2 Rumusan Masalah

        Dalam makalah ini masalah yang akan dirumuskan apakah masalah - masalah yang bekaitan dengan pembelajaran pendidikan biologi pada masa era globalisasi dan bagaiman arah generasi muda mengalami belajar biologi sebagai suatu kebutuhan dan bekal dalam masyarakat dan Negara.

1.3 Tujuan Masalah

        Tujuan dalam makalah ini agar dapat memberi solusi dalam menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan pembelajaran pendidikan biologi pada masa sekarang atau masa globalisasi dan bagaimana usaha dalam proses belajar mengajar agar dalam kehidupan masyarakat generasi yang berkompeten dapat berinteraksi dengan lingkungan alamnya.


BAB II
ISI

2.1. Perkembangan Ilmu dan teknologi dalam Biologi
        Biologi berkembang sangat pesat dengan bantuan ilmu lain (seperti Biokimia dan fisika) setelah ditemukan mikroskop electron dan tekhnik – tekhnik Biologi yang canggih. Khususnya Biologi Sel, Biolgi Molekuler, dan Bioteknologi. Temuan adanya sel – sel prokariot dan komposisi dinding yang berbeda pada jamur dan tumbuhan mengubah cara berfikir dan klasifikasi organisme yang ada di Bumi. Kriteria sebagai dasar pengelompokkan mengalami perkembangan sehingga organisme tidak lagi hanya dikategorikan dengan hewan dan tumbuhan. Sekarang rRNA digunakan sebagai kriteria/dasar pengelompokkan lintas dunia bahkan domain.
        Peledakan penduduk di Indonesia yang menuntut pemenuhan kebutuhan primer bahkan sekunder menyebabkan berkembang Amdal sekitar tahun 1970an sampai awal 1980an. Selanjutnya pembangunan fisik di Negara kita yang makin merambah ke Pengunungan dan daerah aliran sungai, hutan, lepas pantai, sehingga diperlukan Biologi manejemen. Apalagi setelah itu?
        Mengingat species – species yang sudah dikenal dan diberdayakan masih terbatas dan masih pada organisme sel eukariot, sedangkan sel prokariot masih butuh sentuhan – sentuhan tangan oleh para ahli Biologiwan di universitas – universitas Indonesia agar dapat mengharumkan nama bangsa dan diperhitungkan pada level Internasional.  

2.2. Kecendrungan Masyarakat Dalam Era Informasi dan Globalisasi
        Masyarakat masa depan adalah masyarakat Informasi (Tilaar, 1990). Masyarakat semacam itu memerlukan anggota masyarakat yang dapat memilih dari segala macam alternative. Dengan tersedianya informasi manusia perlu menyusunnya agar dapat bermanfaat untuk mengungkapkan pemikirannya secara jelas. Sejalan dengan itu, buah pikiran yang jelas harus dapat dikomunikasikan secara efektif. Melihat hubungan kepada manusia dengan lingkungannya yang bukan bersifat konfrontatif dan menguasai, maka manusia harus memiliki pemahaman yang jelas tentang lingkungannya. Pendidikan lingkungan hidup, baik lingkungan social maupun lingkungan alam merupakan syarat mutlak bagi manusia abad 21. Selanjutnya dengan kemungkinan yang hampir tidak terbatas untuk memperoleh informasi, manusia mempunyai kesempatan luas untuk mengembangkan kemampuan serta potensi pribadinya.
        Membaca merupakan salah satu cara yang efektif untuk memperoleh informasi dengan mengembangkan kemampuan dan potensi pribadi dan dapat berkembang pesat. Berdasarkan pengalaman (Rivai 1994) ada peserta lomba karya ilmiah yang sangat kreatif, inovatif, dan berkemampuan dan kritis. Mereka tidak segan melahap buku pelajaran untuk Perguruan Tinggi bila mereka perlukan. Selanjutnya menurut Rivai kelemahan penyuguhan – penyuguhan buku pelajaran di SMA adalah tidak terbinanya kemampuan anak didik untuk memberikan alternative pada permasalahan yang dihadapi. Sukar dicari produk pendidikan SMA yang mau, dapat, merasa yakin dan mampu menata diri secara otodidak. Padahal kemampuan itu sangat diperlukan pada era Globalisasi.
        Tantangan yang dihadapi ssekarang adalah kurangnya minat baca masayarakat kita. Selain kurang minat membaca, kemampuan membacanya juga tidak tinggi. Dalam hal kemampuan membaca, Indonesia menduduki peringkat kedua dari bawah, diatas salah satu Negara dari Amerika Latin (Moengiadi 1987). Berkemauan membaca sumber tidak banyak gunanya jika tidak berkemampuan untuk mengambil maknanya. Makna tidak terpampang begitu saja dalam buku atau artikel yang dibaca. Membaca merupakan proses interaksi anatra pembaca, informasi yang dituangkan dalam teks, dan karektiristik isi. Tujuan dari membaca adalah membangun makna dari teks tersebut (Jones 1985). Dari sudut pandang kognitif, pemahaman membaca merupakan proses yang kompleks dan tersusun dari proses – proses yang saling berkaitan (Beck, 1989).

2.3. Keadaan Pembelajaran Pendidikan Biologi di Indonesia

        Para ahli mengatakan bahwa abad 21 merupakan abad pengetahuan karena pengetahuan menjadi landasan utama segala aspek kehidupan. Menurut Naisbit (1995) ada 8 kecenderungan besar yang akan terjadi pada pendidikan di abad 21 yaitu;

(1) dari masyarakat industri ke masyarakat informasi,

(2) dari teknologi yang dipaksakan ke teknologi tinggi,

(3) dari ekonomi nasional ke ekonomi dunia,

(4) dari perencanaan jangka pendek ke perencanaan jangka panjang,

(5) dari sentralisasi ke desentralisasi,

(6) dari bantuan institusional ke bantuan diri,

(7) dari demokrasi perwakilan ke demokrasi partisipatoris,

(8) dari hierarki-hierarki ke penjaringan,

        Sedangkan hasil pendidikan yang diharapkan anak didik dapat terefleksi pada profil lulusan yang memiliki karakter : rasa menghargai keberadaan dirinya sendiri, rasa percaya diri, komunikatif, kemampuan berpikir kritis, jiwa kebersamaan, rasa dan jiwa bertanggung jawab, kepekaan dan komitmen sosial, pemahaman terhadap sistem politik dan budaya, mampu berpikir ke depan (visi), mampu berkreasi dan berimajinasi, serta mampu melakukan refleksi dan evaluasi.

        Dalam keluarga dan masyarakat maupun sekolah sebagai satu - satunya jalur yang dapat ditempuh untuk mencetak generasi yang akan mengukir profil atau status atau karakter bangsa Indonesia, di era modren ini nampaknya mulai mengalami erosi. Kelemahan sistem pendidikan saat ini antara lain disebabkan oleh peran keluarga terutama orang tua yang tidak optimal sebagai pendidik, misalnya karena maraknya konsep gender. Jaminan bahwa setiap anak akan mendapat pendidikan yang baik dan benar masih perlu dipertanyakan. Pelayanan dan pendidikan di lingkungan luar sekolah khususnya keluarga mendidik para generasi mulai bayi, balita, anak-anak sampai dewasa sebagian dilihat masih bersifat materilistis dan memenjakan si anak tanpa mendidik anak menjadi anak yang matang kepribadiannya atau karakternya untuk mencapai masa globalisasi ( masa yang akan datang ). Dunia pendidikan memiliki andil yang tidak kecil terkait krisis multidimensi, karena tidak mampu melahirkan pribadi - pribadi utuh yang mampu menyelesaikan problematika bangsa. hingga diharapkan adanya kerjasama para pendidik khususnya guru dan orang tua untuk ikut berperan dalam melaksanakan pencapaian manusia yang berkarakter.

        Sehingga hasil pendidikan dapat terefleksi pada profil lulusan yang memiliki karakter: rasa menghargai keberadaan dirinya sendiri, rasa percaya diri, komunikatif, kemampuan berpikir kritis, jiwa kebersamaan, rasa dan jiwa bertanggung jawab, kepekaan dan komitmen sosial, pemahaman terhadap sistem politik dan budaya, mampu berpikir ke depan (visi), mampu berkreasi dan berimajinasi, serta mampu melakukan refleksi dan evaluasi.

        Akan tetapi belakangan ini banyak sekali masalah yang ada dalam dunia pendidikan. Yang mana pemerintah dapat memperbaikinya dengan empat unsur antara lain: kebijakan pemerintah di bidang pendidikan, sistem pendidikan, manajemen pendidikan, dan proses pembelajaran. Kebijakan pemerintah di bidang pendidikan yang tertuang dalam Undang-undang Nomor 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas) mengamanatkan bahwa perguruan tinggi harus otonom, yang berarti mampu mengelola secara mandiri lembaganya serta dapat mengelola dana secara mandiri untuk memajukan satuan pendidikan. Untuk sekolah/madarasah harus dikelola dengan prinsip manajemen sekolah/madarasah, yang berarti otonomi manajemen pendidikan pada satuan pendidikan. Fakta menunjukkan bahwa wewenang otonomi yang diberikan kepada lembaga dengan tujuan agar meningkatkan tumbuh dan berkembangnya kreativitas, inovasi, mutu, fleksibilitas, dan mobilitas, diterjemahkan lain.

        Untuk mewujudkan otonomi tersebut, maka UU Sisdiknas menentukan bahwa penyelenggara satuan pendidikan formal yang didirikan oleh pemerintah atau masyarakat harus berbentuk badan hukum (BHP) dengan persyaratan tertentu. Ada pernyataan bahwa prinsip manajemen atau pengelolaan BHP tidak mengarah pada komersialisasi atau privatisasi.

2.4. Pengembangan Kurikulum dan Proses Penyusunan Buku Ajar
        Tilaar (1990) menekankan pentingnya peranan pendidikan dalam membangun masa depan. Setelah mengetahui batas – batas pertumbuhan yang dapat ditolerir oleh planet bumi, manusia dapat bersikap sebagai berikut: bersikap sebagai boneka dari berbagai kekuatan diluar dirinya  yang sebagian juga merupakan hasil karyanya atau menjadi penguasa atas karyanya sendiri. Contohnya kualitas yang kita inginkan berngantung dari sikap kita terhadap lingkungan alam yang kita ubah menjadi alam buatan.
        Ciri masa depan adalah masyarakat informasi akibat kemajuan Teknologi. Begitu banyak informasi akan menimbun sehingga manusia harus dapat memilih dan memanfaatkannya untuk pengembangan pribadinya. Proses belajar dengan cara “menyuapi” atau mekanistiks akan membawa anak didik kepada “shock” masa depan. Yang jelas dalam masyarakat informasi kita akan lebih sering digunakan daya akal (otak) dari pada daya fisik (otot). 
        Proses belajar yang antisipatoris dan partisipatif merupakan belajar inofatif  yang mungkin akan cocok dengan keadaan masyarakat informasi dan global, tetapi pengelolaannya sukar. Ada yang mengkhawatirkan bahwa dengan datangnya masyarakat infonnasi, manusia akan kehilangan kepribadiannya. Namun ada juga yang berpendapat bahwa masyarakat informasi akan membuka cakrawala yang lebih luas untuk belajar, belajar tanpa batas.
        Tampaknya pendidikan yang seimbang antara kebutuhan lahiriah dan batiniah menjadi tujuan pendidikan nasional. Pendidikan diarahkan kepada terwujudnya manusia Indonesia yang sadar berada dalam lingkungannya dan mengenai lingkungannya. Kesadaran akan lingkungan berarti sadar akan lingkungan vertical dan horizontal. Manusia Indonesia seutuhnya tidak lebur dalam lingungannya, tetapi bertanggung jawab atas lingkungannya, terhadap alam sekitarnya, dan sang penciptanya. Dia menguasai alam sekitarnya sekaligus menjadi pemelihara. Baginya ilmu pengetahuan dan teknologi bukanlah tujuan, melainkan alat atau wahana.
        Jika bekal untuk mengembangkan potensi dirinya dapat ditransfer melalui pendidikan, maka pendidikan Biologi mempunyai peluang yang sangat besar dan sangat tepat untuk mencapai hal tersebut. Berpikir Biologi (bernalar verbal) dalam berbagai bentuk dapat dikembangkan melalui pembelajaran Biologi yang sesuai dengan karekteristik materinya. Misalnya berpikir klasifikasi melalui sistematik, berfikir sibernatik melalui fisiologi, berfikir probabilitas melalui genetika, berfikir antiseptic melalui mikrobiologi. Bekal berfikir semacam itu akan sangat diperlukan bagi genegrasi muda Indonesia untuk berkompetisi dengan pemuda lain dalam era globalisasi.
        Kurikulum tingkat satuan pendidikan mungkin salah satu alternative dalam menjawab tantangan perkembangan IPTEK. Khusus untuk Biologi dari SD hingga SMU diupayakan ada bekerja ilmiah yang terdiri dari sejumlah keterampilan proses yang perlu dikuasai untuk kemudian diaplikasiakn untuk pembelajaran konsep. Berpikir melalui Biologi dan mendidik melalui Biologi diharapkan dapat menghasilkan manusia Indonesia seutuhnya sebagaimana dijelaskan diatas.
        Bagaimana dengan pengadaan bukunya? Sukses tim penulis buku paket dalam bahan ajar untuk kurikulum 1975 erat berkaitan dengan “oil Blooming” dan kompkanya tim penulis pada saat itu. Para penulis tidak perlu mencari pangsa pasar untuk menjua karya tulisannya. Para Biologiwan bahu membahu untuk menuangkan kemampuan dan pengetahuan menyajikannya dalam buku paket yang disusun. Buku paket disusun dengan tujuan menyederhanakan kerumitan pengadaan buku pelajaran. Hal itu sangat berbeda dengan keadaan sekarang yang justru para penerbit berlomba – lomba untuk menjual buku pelajran untuk mendapatkan keuntungan yang besar.
        Buku ajar biologi sebaiknya ditulis dengan melibatkan 3 komponen, yaitu:
1.    guru pada jenjangnya, bertanggung jawab pada keterbacaan dan ilmu praktisnya
2.    biologiwan, bertanggung jawab pada kemutahiran dan kebenaran ilmunya
3.    dan pendidik biologi, bertanggung jawab dalam penyajiannya.
Bagaimanapun buku merupakan ringkasan, bukan buku yang kita idam – idamkan, karena tida melibatkan proses berfikir anak didik.

2.5. Harapan arah Pembelajaran Biologi di abad 21 (Era Globalisasi)

        Memberikan peluang dan tantangan yang besar bagi perkembangan profesional, baik pada preservice dan inservice guru-guru kita. Profesionalisme sebagai penunjang kelancaran guru dalam melaksanakan tugasnya, sangat dipengaruhi oleh dua faktor besar yaitu faktor internal yang meliputi minat dan bakat dan faktor eksternal yaitu berkaitan dengan lingkungan sekitar, sarana prasarana, serta berbagai latihan yang dilakukan guru.

Guru profesional harus mampu mengembangkan sepuluh kemampuan dasar yang
harus dimiliki.

1) Penguasaan bahan ajar dan konsep-konsep dasar keilmuan.

2) Pengelolaan program belajar-mengajar.

3) Pengelolaan kelas.

4) Penggunaan media dan sumber pembelajaran.

5) Penguasaan landasan-landasan kependidikan.

6) Pengelolaan interaksi belajar mengajar.

7) Penilaian prestasi siswa.

8) Pengenalan fungsi dan program bimbingan konseling.

9) Pengenalan dan penyelenggaraan administrasi sekolah,

10) Pemahaman prinsip-prinsip dan pemanfaatan hasil penelitian pendidikan untuk kepentingan peningkatan mutu pelajaran.
       
        Pendidikan di abad pengetahuan menuntut adanya manajemen pendidikan yang modern dan profesional dengan bernuansa pendidikan. Lembaga-lembaga pendidikan diharapkan mampu mewujudkan peranannya secara efektif dengan keunggulan dalam kepemimpinan, staf, proses belajar mengajar, pengembangan staf, kurikulum, tujuan dan harapan, iklim sekolah, penilaian diri, komunikasi, dan keterlibatan orang tua/masyarakat.
Trilling dan Hood (1999) mengemukakan bahwa perhatian utama pendidikan di abad 21 adalah untuk mempersiapkan hidup dan kerja bagi masyarakat. Nilai-nilai keluarga hendaknya tetap dilestarikan dalam berbagai lingkungan pendidikan;

1) Asas belajar sepanjang hayat harus menjadi landasan utama dalam mewujudkan pendidikan untuk mengimbangi tantangan perkembangan jaman

2) Penggunaan berbagai inovasi Iptek terutama media elektronik, informatika, dan komunikasi dalam berbagai kegiatan pendidikan

3) Penyediaan perpustakaan dan sumber-sumber belajar sangat diperlukan dalam menunjang upaya pendidikan dalam pendidikan

4) Publikasi dan penelitian dalam bidang pendidikan dan bidang lain yang terkait, merupakan suatu kebutuhan nyata bagi pendidikan di abad pengetahuan.

        Tata sosial yang kapitalissekuler menyajikan menu individualis dan materialis yang harus disantap oleh para generasi mulai bayi, balita, anak-anak sampai dewasa. Dunia pendidikan memiliki andil yang tidak kecil terkait krisis multidimensi, karena tidak mampu melahirkan pribadi-pribadi utuh yang mampu menyelesaikan problematika bangsa.

        Mengembangkan kurikulum yang konsisten secara konseptual, memang tidak mudah. Lebih tidak mudah lagi mengimplementasikannya. Apalagi jika penerapan kurikulum baru itu tidak disertai dengan penyiapan lapangan yang baik. Perubahan kurikulum bukan sekedar pergantian dokumen. Melainkan berimplikasi luas terhadap perubahan paradigma, kebiasaan, dan kemampuan lama menuju yang baru. Dan diharapkan setiap pergantian kurikulum oleh pemerintah tidak mempersulit guru dalam mengaplikasikan kurikulum baru tersebut dan dapat dilaksanakan pada proses belajar mengajar mulai dari kota besar sampai ke daerah terpencil, sehingga anak didik menjadi anak yang berilmu pengetahuan yang tinggi dan berkarakter sesuai dengan tujuan kurikulum tersebut.

        Akhirnya yang paling penting, paradigma baru pembelajaran ini memberikan peluang dan tantangan yang besar bagi perkembangan profesional, baik pada preservice dan inservice guru-guru kita. Di banyak hal, paradigma ini menggambarkan redefinisi profesi pengajaran dan peran-peran yang dimainkan guru dalam proses pembelajaran. Meskipun kebutuhan untuk merawat, mengasuh, menyayangi dan mengembangkan anak-anak kita secara maksimal itu akan selalu tetap berada dalam genggaman pengajaran, tuntutan-tuntutan baru Abad Pengetahuan menghasilkan sederet prinsip pembelajaran baru dan perilaku yang harus dipraktikkan. Berdasarkan gambaran pembelajaran di abad pengetahuan di atas, nampaklah bahwa pentingnya pengembangan profesi guru dalam menghadapi berbagai tantangan ini.

BAB III
PENUTUP


3.1 KESIMPULAN

1. Perhatian utama pendidikan di abad 21 adalah untuk mempersiapkan hidup dan kerja bagi  masyarakat. Nilai-nilai keluarga hendaknya tetap dilestarikan dalam berbagai lingkungan pendidikan.

2. Paradigma baru pembelajaran ini memberikan peluang dan tantangan yang besar bagi perkembangan profesional, baik pada preservice dan inservice guru-guru kita.

3. Hambatan – hambatan dalam pengembangan kurikulum khususnya pada guru. Guru yang kurang berpartisipasi dalam mendesain pengembangan kurikulum karena kurangnya waktu, kekurangkesesuaian pendapat antara guru maupun dengan sekolah atau administrator, karena kemampuan dan pengetahuan guru itu sendiri, hambatan yang lain datangnya dari masyarakat baik dalam pembiayaan maupun umpan balik dari masyarakat terhadap pendidikan dan kurikulum yang berlangsung.

4. Fungsi pendidikan dahulu dan sekarang sudah berubah, dalam masyarakat dahulu persekolahan berfungsi untuk memelihara dan meneruskan nilai nilai yang ada sejak dahulu. Sedangkan masa sekarang pendidikan sekarang didasarkan pada filsafat pendidikan yang jelas, masalah atau topik tertentu sehingga pendidikan yang didapatkan berdasarkan pengalaman sendiri dan diharapkan dapat diaplikasikan secara langsung kepada masyarakat.


3.2 SARAN

1. Perkembangan biologi yang begitu pesat menuntut perkembangan cara berpikir, bersikap manusia Indonesia. Menghadapi masa depan yang penuh tantangan tersebut, proses belajar mengajar Biologi bukan hanya mengajar Biologi sebagai produk berupa konsep atau prinsip Biologi, tetapi juga mengajar melalui Biologi. Mempersiapkan manusia Indonesia seutuhnya dalam era informasi dan globalisasi menuntut pembelajaran yang inovatif berupa pembelajaran yang antisipatoris dan parsipatif. Bekal cara berfikir Biologi dan Pengetahuan Biologi diharapkan dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat yang harmonis dan sehat. Pengetahuan tentang sel pada tingkat pendidikan dasar dapat digunakan untuk memilih makanan (buah atau sayur) dari pada jajanan dari tepung dan zat – zat adiktif misalnya. Atau pengetahuan tentang hubungan timbal balik antara factor biotik dan abiotic serta pencernaan dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat yang tidak mengambil hak orang lain untuk menghirup udara yang tidak tercemar asap rokok di dalam ruangan.

2. Makalah ini dapat diperbaharui lagi sesuai dengan kondisi ligkungan pendidikan yang dapat berubah suatu waktu.


DAFTAR PUSTAKA
Moegiadi, (1987). Guru Sebagai Determinan dalam menyukseskan pembangunan Nasional. Orasi Ilmiah pada dies natalis IKIP Bandung.
Rifai, M.A (1994). Menyiapkan Diri Belajar Biologi di Sekolah Menengah Umum. Jakarta:Pusat Perbukuan.Depdikbud.
Rustanan, N.Y. (1991). Dasar Biologi Proses Berfikir. Makalah dipresentasikan pada seminar Nasional Biologi Kongres Nasional Biologi. IPB. Bogor.
Tilaar. H.A.R. (1990).  Pendidikan Dalam pembangunan Nasional menyongsong Abad 21. Jakarta: Balai pustaka.
http://bioc.blog.com/2010/12/23/profesionalisme-guru-dalam-menghadapi-golbalisasi/. Diakses pada tanggal 6 februari 2011.

0 komentar:

Poskan Komentar